Jangan Hanya Mengajar Anak untuk Lulus

Oleh: Dr. Derliana, MA
Mudir Pondok Pesantren Internasional Kauman Mubalighin Muhammadiyah Padang Panjang

Ada satu pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya setelah berdiri di hadapan sekitar 520 peserta Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul Tahun 2026:
 

Apakah sekolah kita sungguh-sungguh sedang menyiapkan anak-anak untuk masa depan, atau kita hanya sibuk menyiapkan mereka untuk lulus?

Pertanyaan ini sederhana. Tetapi semakin lama saya berada di dunia pendidikan, semakin saya merasa ia penting.

Sekolah bisa memiliki gedung bagus, guru-guru hebat, segudang prestasi, dan sederet predikat. Namun jika setelah lulus seorang anak hanya terampil menjawab soal, sementara gagap menghadapi dunia, ada sesuatu yang belum selesai.

Pendidikan semestinya tidak berhenti pada kelulusan.

Ia harus menyiapkan keberanian untuk melangkah lebih jauh.

***

Dalam Rakornas tersebut saya mendapat amanah menjadi narasumber untuk berbagi best practice dengan tema “Strategi Penguatan Mutu Pembelajaran melalui Program Internasional”.

Saya membawa cerita dari Kauman.

Sebenarnya saya agak sungkan menyebutnya sebagai sebuah keberhasilan. Sebab apa yang kami bangun masih merupakan perjalanan panjang. Tetapi jejaknya mulai terlihat.

Alhamdulillah, alumni Kauman kini telah sampai di 13 negara.

Pada lulusan tahun pelajaran 2025/2026, Abiyyu berhasil menembus 18 universitas luar negeri. Mayanggi memperoleh peluang studi hingga 13 negara. Wildan membuka jalan ke 7 negara. Mutia memperoleh kesempatan ke 3 negara.

Tahun ini enam santri melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Mesir, dan seorang lainnya melanjutkan pendidikan ke Tunisia.

Angka-angka itu memang menarik untuk disebutkan.

Tetapi bagi saya, angka bukan inti ceritanya.

Di balik 18 universitas ada seorang anak yang mencari informasi, menyiapkan dokumen, belajar bahasa, mengikuti seleksi, menunggu pengumuman, kecewa, mencoba lagi, hingga akhirnya mendapatkan kesempatan.

Di balik 13 negara ada keberanian untuk membayangkan hidup di tempat yang belum pernah didatangi.

Ada orang tua yang mendoakan.

Ada guru yang mendampingi.

Ada pesantren yang menyiapkan ekosistem.

Dan ada proses panjang yang tidak pernah masuk statistik.

Karena itu, saya selalu percaya bahwa prestasi pendidikan tidak cukup diukur dengan angka.

Kadang keberhasilan terbesar sebuah sekolah adalah ketika seorang anak yang sebelumnya tidak berani bermimpi akhirnya berani berkata:
“Saya ingin kuliah di luar negeri.”

***

Kita sering keliru memahami sekolah unggul.

Kita terlalu mudah mengukurnya dari apa yang terlihat: gedung, akreditasi, piala, nilai, atau jumlah lulusan yang diterima di perguruan tinggi.

Semua itu penting.

Tetapi ada ukuran lain yang menurut saya jauh lebih mendasar: seberapa luas sekolah memperbesar kemungkinan hidup anak-anaknya.

Sekolah yang baik bukan sekolah yang membuat anak bergantung selamanya kepada sekolah.

Sebaliknya, sekolah harus membuat anak mampu berjalan ketika ia sudah tidak lagi berada di dalamnya.

Mampu mencari pengetahuan.

Mampu membaca peluang.

Mampu berkomunikasi dengan orang yang berbeda.

Mampu menghadapi kegagalan.

Dan mampu mengambil keputusan.

Sebab kehidupan tidak menyediakan lembar soal dengan pilihan A, B, C, dan D.

Kehidupan sering kali hanya memberikan persoalan.

Kitalah yang harus mencari jawabannya.

***

Karena itu, yang pertama-tama harus diperluas bukan jarak tempuh anak-anak kita, tetapi cakrawala berpikir mereka.

Anak-anak harus tahu bahwa dunia memiliki begitu banyak kemungkinan.

Mereka perlu memiliki kemampuan bahasa, literasi informasi, keberanian berkomunikasi lintas budaya, serta pengetahuan tentang berbagai peluang pendidikan.

Mereka perlu tahu bagaimana mencari informasi perguruan tinggi, memperoleh beasiswa, menyiapkan dokumen, dan memperjuangkan kesempatan.

Dengan begitu, ketika sebuah pintu terbuka, mereka tidak hanya siap mengetuk, tetapi juga siap masuk dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Sebab terkadang anak bukan tidak mampu mencapai sesuatu.

Ia hanya belum pernah tahu bahwa sesuatu itu mungkin.

***

Saya teringat perjalanan Kauman.

Dulu kami hanya punya mimpi: anak-anak Kauman harus berani melihat dunia.

Hari ini sebagian dari mereka mulai sampai ke berbagai penjuru dunia.

Tetapi ketika mimpi itu mulai menjadi kenyataan, saya justru merasa pekerjaan kami semakin berat.

Sebab mengirim anak ke luar negeri bukanlah akhir.

Itu baru awal.

Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting:
 

Untuk apa mereka pergi?

Kalau hanya untuk mendapatkan ijazah, perjalanan itu selesai ketika wisuda.

Tetapi jika mereka pergi untuk membawa ilmu, memperluas jejaring, memahami keberagaman, kemudian menghadirkan manfaat bagi masyarakat, maka pendidikan itu memiliki makna yang jauh lebih panjang.

Saya tidak ingin anak-anak Kauman sekadar menjadi mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri.

Saya ingin mereka menjadi manusia Indonesia yang mampu berdiri di tengah dunia tanpa kehilangan akar.

Sebab global tidak berarti kehilangan identitas.

Terbuka bukan berarti tercerabut.

Modern bukan berarti meninggalkan nilai.

Justru semakin jauh kaki melangkah, semakin penting seseorang mengetahui dari mana ia berasal.

***

Itulah yang membuat Rakornas ini terasa lebih dari sekadar forum berbagi pengalaman.

Saya datang membawa cerita Kauman.

Tetapi saya pulang membawa banyak cerita lain.

Bertemu para kepala sekolah dan madrasah dari berbagai daerah, mendengarkan gagasan, inovasi, kegelisahan, dan praktik baik mereka membuat saya kembali diingatkan bahwa tidak ada sekolah yang boleh merasa selesai.

Saya datang untuk berbagi.

Ternyata saya juga banyak belajar.

Mungkin begitulah seharusnya sebuah forum pendidikan bekerja.

Bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling hebat.

Melainkan tempat untuk saling bertanya:

Apa yang belum kita lakukan untuk anak-anak kita?

Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar:
 

Apa yang sudah kita capai?

Capaian masa lalu boleh menjadi kebanggaan.

Tetapi kebutuhan anak-anak di masa depan adalah tanggung jawab.

***

Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam pendidikan.

Karena itu tantangan kita hari ini bukan sekadar memperbanyak sekolah, murid, atau predikat unggul.

Tantangannya adalah memastikan sekolah-sekolah Muhammadiyah mampu melahirkan generasi yang sanggup hidup pada zamannya, bahkan ikut memberi arah bagi zaman.

Berpikir global tanpa kehilangan ruh gerakan.

Menguasai teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan.

Membangun jejaring luas tanpa melupakan lingkungan sendiri.

Dan mengejar prestasi tanpa menjadikan anak sekadar angka.

Sebab sekolah bukan pabrik nilai.

Anak bukan produk.

Guru bukan mesin pengajar.

Pendidikan adalah proses panjang memanusiakan manusia.

***

Maka saya pulang dari Rakornas dengan satu keyakinan:
sekolah unggul tidak boleh hanya menghasilkan anak yang pintar menjawab soal.

Ia harus menghasilkan anak yang berani bertanya kepada dunia.

Berani memasuki ruang yang belum dikenalnya.

Berani mencoba.

Berani gagal.

Berani belajar kembali.

Dan ketika berhasil, tidak lupa bahwa di belakang keberhasilannya ada orang tua yang mendoakan, guru yang membimbing, serta lingkungan yang ikut membesarkannya.

Dulu kami bermimpi agar anak-anak Kauman berani melihat dunia.

Hari ini mereka mulai berjalan ke sana.

Tetapi perjalanan itu belum selesai.

Sebab dunia terus berubah.

Dan sekolah tidak boleh berjalan di belakang perubahan.

Kita harus terus belajar.

Terus berkolaborasi.

Terus membuka pintu.

Terus memperbesar mimpi.
 

Level up.

Bukan supaya sekolah kita terlihat hebat.

Tetapi supaya anak-anak kita memiliki masa depan yang lebih luas.


Dari Kauman menuju dunia.  
Dari Muhammadiyah untuk peradaban.


Sebab pada akhirnya, ukuran sebuah sekolah bukan hanya berapa banyak anak yang berhasil keluar dari gerbangnya.

Tetapi seberapa besar manfaat yang kelak mereka bawa ketika menghadapi dunia.
 

Great attitude, great future.

Posting Komentar

0 Komentar