resep negeri
menadah nasi di bawah kursi petinggi
*****
Tentang Penulis
Rungo Ashta. Penulis yang berasal dari Kabupaten Pasaman Barat. Buku kumpulan puisinya Retisalya (2021), Lidah Ombak, Tanah Darah (2026). Baginya menulis adalah pemuasan hasrat dan pemulihan jiwa. Kunjungi Rungo Ashta di Instagram: rungo_ashta22.
****Membaca Dua Puisi Rungo Ashta dengan Perspektif Reader - Response Theory
Redaksi
Dalam perspektif reader-response theory, makna karya sastra tidak sepenuhnya berada di dalam teks atau ditentukan oleh pengarang, melainkan terbentuk melalui perjumpaan antara teks dan pembaca. Pengalaman, pengetahuan, serta situasi sosial pembaca ikut menentukan bagaimana sebuah puisi dipahami. Dengan pendekatan tersebut, puisi “Resep Negeri” dan “Menadah Nasi di Bawah Kursi Petinggi” dapat dibaca sebagai kritik sosial yang mengundang pembaca untuk mempertanyakan hubungan antara negara, kebijakan, keadilan, dan kehidupan rakyat kecil.
Pada puisi “Resep Negeri”, pembaca segera berhadapan dengan metafora makanan dan dapur sebagai gambaran kebijakan negara. Larik “negeri datang membawa sepiring janji” dapat menimbulkan harapan karena makanan secara umum diasosiasikan dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Namun, harapan tersebut perlahan berubah menjadi kecurigaan ketika muncul ungkapan seperti “panci-panci birokrasi”, “bumbu pidato”, “garam statistik”, dan “kuah tepuk tangan”. Bagi pembaca yang akrab dengan perdebatan mengenai program bantuan atau pemenuhan gizi masyarakat, metafora tersebut dapat dibaca sebagai sindiran terhadap kebijakan yang lebih menonjolkan pencitraan daripada efektivitas.
Kekuatan puisi ini terletak pada konsistensi metafora kuliner. Kebijakan tidak dijelaskan secara abstrak, tetapi dihadirkan sebagai sesuatu yang “dimasak”. Pembaca seakan diajak masuk ke dapur kekuasaan dan melihat proses di balik “hidangan” yang diberikan kepada masyarakat. Larik “nasi kadang dingin bagai janji yang terlambat tiba” menjadi efektif karena menghubungkan pengalaman sederhana dengan persoalan politik. Meskipun demikian, kritik dalam puisi ini terkadang terlalu eksplisit sehingga ruang penafsiran pembaca sedikit menyempit. Beberapa metafora sudah langsung mengarahkan pembaca pada kesimpulan bahwa birokrasi identik dengan ketidaktepatan kebijakan dan pencitraan.
Sementara itu, “Menadah Nasi di Bawah Kursi Petinggi” menghadirkan nada yang lebih keras dan konfrontatif. Pembaca ditempatkan berhadapan dengan ketimpangan melalui oposisi antara rakyat kecil dan pemegang kekuasaan. Ungkapan “keadilan berjalan pincang bertongkat emas” membangun kesan bahwa hukum masih berjalan, tetapi keberpihakannya telah rusak oleh kekayaan dan kepentingan. Pembaca yang memiliki pengalaman melihat kesenjangan sosial mungkin akan merasakan kemarahan, sedangkan pembaca lain dapat menangkapnya sebagai peringatan moral terhadap penyalahgunaan kekuasaan.
Larik “ibu menukar napasnya dengan segenggam beras murah” merupakan salah satu bagian paling kuat karena menghadirkan kemiskinan secara personal dan emosional. Namun, penggunaan kata seperti “korupsi”, “rakyat”, “hukum”, dan “keadilan” secara langsung membuat puisi ini terasa lebih deklaratif daripada sugestif.
Melalui reader-response theory, kedua puisi berhasil karena memancing pembaca membawa pengalaman sosialnya sendiri ke dalam teks. “Resep Negeri” lebih kuat dalam permainan metafora, sedangkan “Menadah Nasi di Bawah Kursi Petinggi” lebih kuat dalam daya emosional. Keduanya tidak hanya berbicara mengenai rakyat dan negara, tetapi juga menantang pembaca untuk menentukan sendiri: apakah kebijakan benar-benar menjadi bentuk kepedulian, atau sekadar janji yang terus disajikan dari meja kekuasaan?[]

0 Komentar