PUISI - PUISI RUNGO ASHTA

 


resep negeri

di ruang-ruang kelas yang setia menunggu pagi
negeri datang membawa sepiring janji
nasi yang katanya disuling tulus dari hati
sayur yang katanya ditanam di ladang peduli
dedaunan mengangguk pelan, ditimpa tetes embun yang basah
seolah percaya bahwa perut-perut kecil
akan kenyang oleh cinta berbungkus kebijakan
 
kadang sendok-sendok beradu mengaduk kabut
sementara di baliho kata bergizi lantang bagai doa
di dapur kebijakan yang kabarnya megah
anggaran berdesis bagai minyak di wajan panas
gemericiknya riuh, aromanya disuarakan sebagai berkah
panci-panci birokrasi mengaduk nasi
dengan resep yang kadang lupa diri
nasi kadang dingin bagai janji yang terlambat tiba
ayam kecil berbaring diam, seolah ia hadir sebagai simbol
 
dalam deret laporan, anggaran rapi demi birokrasi
jas mahal dari kata gratis berkilau sebagai bukti
ia tersenyum di depan kamera
menyebut diri kemurahan hati negara
nyatanya ia kerap tersesat dari peta kebutuhan
namun anak-anak tetap makan dengan tawa
tanpa paham bagaimana janji dimasak di dapur penguasa
 
negeri ini lihai sekali menanak harapan
dengan bumbu pidato
dengan garam statistik
dan kuah tepuk tangan
meski mereka tahu, memberi makan masa depan
tak cukup dengan kata manis di atas mimbar.
 
pasaman, februari 2026
 

menadah nasi di bawah kursi petinggi 

di negeri ini keadilan berjalan pincang bertongkat emas
ia buta bukan karena tak melihat
tetapi karena memilih menutup mata
rakyat kecil bicara dari perut keroncong
namun suaranya ditekan kursi-kursi petinggi
yang berdiri tegak di atas janji
janji yang dilapisi topeng korupsi
 
di istana kata rakyat adalah jimat
diulang-ulang sampai kehilangan makna
sementara di pasar-pasar
ibu menukar napasnya dengan segenggam beras murah
 
hukum adil di kursi empuk
mendengar perkara dari sisi yang beruang
sementara kebenaran berkibar setengah tiang
menunggu upacara yang tak kunjung dimulai
 
sisa suara mencatat semua keadilan yang keruh
tangan rakyat menulis di atap kumuh yang hampir rubuh
negeri ini masih hidup
meski nadinya kian ganas dirampas
meski rakyat kerap makan ampas.
 
pasaman, september 2025
 
 

*****

Tentang Penulis

Rungo Ashta. Penulis yang berasal dari Kabupaten Pasaman Barat. Buku kumpulan puisinya Retisalya (2021), Lidah Ombak, Tanah Darah (2026).  Baginya menulis adalah pemuasan hasrat dan pemulihan jiwa. Kunjungi Rungo Ashta di Instagram: rungo_ashta22.

****

Membaca Dua Puisi Rungo Ashta dengan Perspektif Reader - Response Theory
Redaksi

Dalam perspektif reader-response theory, makna karya sastra tidak sepenuhnya berada di dalam teks atau ditentukan oleh pengarang, melainkan terbentuk melalui perjumpaan antara teks dan pembaca. Pengalaman, pengetahuan, serta situasi sosial pembaca ikut menentukan bagaimana sebuah puisi dipahami. Dengan pendekatan tersebut, puisi “Resep Negeri” dan “Menadah Nasi di Bawah Kursi Petinggi” dapat dibaca sebagai kritik sosial yang mengundang pembaca untuk mempertanyakan hubungan antara negara, kebijakan, keadilan, dan kehidupan rakyat kecil.

Pada puisi “Resep Negeri”, pembaca segera berhadapan dengan metafora makanan dan dapur sebagai gambaran kebijakan negara. Larik “negeri datang membawa sepiring janji” dapat menimbulkan harapan karena makanan secara umum diasosiasikan dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Namun, harapan tersebut perlahan berubah menjadi kecurigaan ketika muncul ungkapan seperti “panci-panci birokrasi”, “bumbu pidato”, “garam statistik”, dan “kuah tepuk tangan”. Bagi pembaca yang akrab dengan perdebatan mengenai program bantuan atau pemenuhan gizi masyarakat, metafora tersebut dapat dibaca sebagai sindiran terhadap kebijakan yang lebih menonjolkan pencitraan daripada efektivitas.

Kekuatan puisi ini terletak pada konsistensi metafora kuliner. Kebijakan tidak dijelaskan secara abstrak, tetapi dihadirkan sebagai sesuatu yang “dimasak”. Pembaca seakan diajak masuk ke dapur kekuasaan dan melihat proses di balik “hidangan” yang diberikan kepada masyarakat. Larik “nasi kadang dingin bagai janji yang terlambat tiba” menjadi efektif karena menghubungkan pengalaman sederhana dengan persoalan politik. Meskipun demikian, kritik dalam puisi ini terkadang terlalu eksplisit sehingga ruang penafsiran pembaca sedikit menyempit. Beberapa metafora sudah langsung mengarahkan pembaca pada kesimpulan bahwa birokrasi identik dengan ketidaktepatan kebijakan dan pencitraan.

Sementara itu, “Menadah Nasi di Bawah Kursi Petinggi” menghadirkan nada yang lebih keras dan konfrontatif. Pembaca ditempatkan berhadapan dengan ketimpangan melalui oposisi antara rakyat kecil dan pemegang kekuasaan. Ungkapan “keadilan berjalan pincang bertongkat emas” membangun kesan bahwa hukum masih berjalan, tetapi keberpihakannya telah rusak oleh kekayaan dan kepentingan. Pembaca yang memiliki pengalaman melihat kesenjangan sosial mungkin akan merasakan kemarahan, sedangkan pembaca lain dapat menangkapnya sebagai peringatan moral terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

Larik “ibu menukar napasnya dengan segenggam beras murah” merupakan salah satu bagian paling kuat karena menghadirkan kemiskinan secara personal dan emosional. Namun, penggunaan kata seperti “korupsi”, “rakyat”, “hukum”, dan “keadilan” secara langsung membuat puisi ini terasa lebih deklaratif daripada sugestif.

Melalui reader-response theory, kedua puisi berhasil karena memancing pembaca membawa pengalaman sosialnya sendiri ke dalam teks. “Resep Negeri” lebih kuat dalam permainan metafora, sedangkan “Menadah Nasi di Bawah Kursi Petinggi” lebih kuat dalam daya emosional. Keduanya tidak hanya berbicara mengenai rakyat dan negara, tetapi juga menantang pembaca untuk menentukan sendiri: apakah kebijakan benar-benar menjadi bentuk kepedulian, atau sekadar janji yang terus disajikan dari meja kekuasaan?[]


 

Posting Komentar

0 Komentar