Oleh Denni Meilizon (Redpel Media Komunikasi SYARIKATMU)
Akhir pekan ini akan asyik sekali. Walaupun asap jerebu masih mengabutkan pandangan dan mengganggu pernapasan, perasaan saya yang penuh gairah justru mendorong saya menuliskan renungan ini. Anggap saja sebagai renungan akhir pekan menjelang akhir Oktober 2026. Sebuah percakapan dengan diri sendiri, barangkali juga dengan siapa saja yang bersedia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan untuk memikirkan kembali sesuatu yang sesungguhnya dekat, tetapi kerap luput dari perhatian kita.
Beberapa pekan terakhir, saya terobsesi dengan hal-hal yang berkenaan dengan etika, moral, dan adab.
Saya sengaja menggunakan kata *terobsesi*, bukan sekadar tertarik. Sebab, ada hal-hal tertentu yang, ketika mulai mengusik pikiran, tidak mudah dilepaskan begitu saja. Ia mengikuti kita ketika bekerja, menyelinap di sela-sela percakapan, muncul ketika menyaksikan perilaku orang lain, bahkan terkadang mengetuk kesadaran ketika kita sedang berusaha memahami diri sendiri.
Etika, moral, dan adab. Tiga istilah yang begitu akrab di telinga kita. Ketiganya kerap diucapkan dalam percakapan sehari-hari, pidato, forum pendidikan, ruang keagamaan, lingkungan birokrasi, hingga perdebatan di media sosial. Kita menggunakannya untuk menilai perilaku, mengoreksi tindakan, menuntut tanggung jawab, bahkan menghakimi orang lain.
Akan tetapi, pernahkah kita sungguh-sungguh memeriksa apakah kita memahami maknanya? Lebih jauh lagi, sudahkah kita menjadikan ketiganya sebagai bagian dari cara kita menjalani kehidupan?
Etika, dalam pengertian filosofis, mengajak manusia berpikir kritis tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta alasan yang mendasari suatu tindakan. Moral berhubungan dengan nilai dan keyakinan yang menjadi pedoman seseorang dalam menentukan sikap. Sementara itu, adab menghadirkan nilai-nilai tersebut ke dalam perilaku, cara berbicara, cara memperlakukan orang lain, dan kemampuan menempatkan diri secara patut.
Ketiganya berhubungan erat, tetapi tidak selalu berjalan beriringan.
Seseorang dapat memahami aturan dan berbicara tentang etika, tetapi belum tentu memiliki keberanian moral untuk mempertahankan kebenaran ketika kepentingannya terancam. Seseorang dapat merasa dirinya paling bermoral, tetapi kehilangan adab ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan. Seseorang pun bisa tampil santun, bertutur kata lembut, dan pandai menjaga penampilan di hadapan orang banyak, tetapi menyimpan niat yang jauh dari kejujuran.
Di sinilah saya mulai merasa bahwa persoalan etika, moral, dan adab bukanlah perkara sederhana.
Kita mungkin tidak kekurangan orang yang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Kita juga tidak selalu kekurangan aturan, nasihat, ceramah, pendidikan karakter, atau slogan tentang integritas. Yang patut kita pertanyakan justru sesuatu yang lebih mendasar: mengapa pengetahuan tentang kebaikan tidak selalu menjelma menjadi perilaku yang baik?
Mengapa orang yang mengetahui pentingnya kejujuran terkadang tetap memilih berbohong? Mengapa mereka yang berbicara tentang keadilan dapat bersikap tidak adil ketika berhadapan dengan kepentingannya sendiri? Mengapa orang yang gemar menasihati orang lain tentang kesantunan justru kehilangan kesantunan ketika menerima kritik?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak memerlukan jawaban yang tergesa-gesa. Sebab, manusia memang makhluk yang rumit. Kita bisa mengetahui kebenaran, tetapi takut menanggung konsekuensinya. Kita bisa meyakini kebaikan, tetapi tergoda oleh keuntungan sesaat. Kita bisa memahami kepantasan, tetapi mengabaikannya ketika merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada orang lain.
Mungkin, justru karena itulah manusia membutuhkan etika, moral, dan adab sekaligus.
---
Ada satu kecenderungan yang menarik untuk kita perhatikan: manusia sering kali lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada memeriksa kekurangan dirinya sendiri.
Kita begitu cepat mengenali kesalahan orang lain, tetapi memerlukan waktu lebih panjang untuk mengakui kesalahan sendiri. Kita fasih menjelaskan bagaimana seharusnya orang lain bersikap, tetapi mendadak menemukan banyak alasan ketika diri sendiri dituntut melakukan hal yang sama.
Kita menuntut kejujuran dari orang lain, tetapi meminta pengertian ketika kebohongan kita terbongkar. Kita menuntut keterbukaan, tetapi merasa tersinggung ketika kekurangan kita dibicarakan. Kita menghendaki penghormatan, tetapi terkadang lupa bahwa penghormatan bukanlah hak istimewa yang hanya berlaku untuk diri kita.
Dalam keadaan seperti itu, moralitas berisiko berubah menjadi alat untuk mengukur orang lain, bukan cermin untuk mengukur diri sendiri.
Padahal, bukankah salah satu ujian paling sulit dalam kehidupan adalah menerapkan prinsip yang sama kepada diri sendiri sebagaimana kita menerapkannya kepada orang lain?
Kita mungkin dapat memaafkan seseorang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Namun, bagaimana jika kesalahan dilakukan oleh orang yang memahami aturan, mengetahui akibatnya, dan bahkan sering mengingatkan orang lain agar tidak melakukan hal serupa?
Di sana, persoalannya bukan lagi sekadar pengetahuan. Ada soal integritas, konsistensi, dan kesediaan untuk tunduk pada nilai yang kita akui sendiri.
Saya kira, ukuran moralitas seseorang tidak cukup dilihat dari apa yang diucapkannya ketika berada di panggung, di mimbar, atau di hadapan orang banyak. Ia juga perlu dilihat dari tindakannya ketika tidak ada tepuk tangan, ketika tidak ada kamera, ketika tidak ada keuntungan yang menunggu, dan ketika tidak seorang pun akan memberinya penghargaan karena telah melakukan sesuatu yang benar.
Kebaikan yang hanya muncul ketika ada penonton barangkali lebih dekat dengan pertunjukan daripada ketulusan.
Tentu saja, kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh isi hati seseorang. Karena itu, kita perlu berhati-hati agar kritik terhadap kemunafikan tidak justru menjadikan kita gemar menuduh orang lain munafik. Namun, kita tetap dapat menilai tindakan yang nyata, memeriksa akibatnya, dan menuntut pertanggungjawaban secara adil.
Sebab, kehati-hatian dalam menilai manusia tidak berarti kita harus menutup mata terhadap perilaku yang merugikan.
---
Hal lain yang membuat saya terus memikirkan persoalan ini adalah hubungan antara adab dan kebenaran.
Dalam kehidupan sosial, adab sering kali dipahami sebatas kesantunan. Orang yang berbicara lembut dianggap beradab, sedangkan orang yang berbicara keras dianggap tidak beradab. Orang yang menyetujui pendapat kita dipandang menghormati, sedangkan orang yang membantah dianggap lancang.
Pemahaman semacam ini perlu diperiksa kembali.
Kesantunan memang penting. Akan tetapi, adab tidak semestinya dijadikan alasan untuk membungkam kebenaran. Menghormati orang lain tidak berarti kita harus menyetujui seluruh pendapatnya. Menjaga tata krama tidak berarti kita dilarang mengoreksi kesalahan. Bahkan, dalam situasi tertentu, keberanian menyampaikan kritik justru merupakan bentuk tanggung jawab moral.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kritik itu disampaikan, apa dasar argumentasinya, dan untuk tujuan apa kritik tersebut diberikan.
Kita bisa berbeda pendapat tanpa merendahkan martabat lawan bicara. Kita bisa menolak sebuah gagasan tanpa harus menghina orang yang menyampaikannya. Kita bisa mengoreksi seorang pemimpin tanpa kehilangan penghormatan terhadap kedudukannya sebagai manusia. Sebaliknya, kita juga bisa menghormati seseorang tanpa harus menanggalkan akal sehat dan sikap kritis.
Adab tidak meminta manusia menjadi penurut tanpa pikiran. Adab justru menuntut manusia mengetahui batas antara ketegasan dan kesewenang-wenangan, antara keberanian dan kesombongan, antara kritik dan penghinaan.
Orang yang beradab tidak harus selalu berbicara dengan suara pelan. Ia boleh tegas, bahkan keras, ketika keadaan menuntut ketegasan. Namun, ia tidak menjadikan kemarahan sebagai pembenaran untuk berlaku zalim.
Demikian pula, orang yang santun belum tentu benar. Kata-kata yang manis dapat digunakan untuk menyampaikan kebohongan, sebagaimana bahasa yang kasar tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh isi perkataannya salah.
Karena itu, kita perlu menilai perkataan berdasarkan kebenaran dan alasannya, sekaligus menilai cara penyampaiannya berdasarkan kepatutan. Keduanya penting, tetapi tidak boleh dicampuradukkan hingga kita menganggap kesantunan sebagai bukti kebenaran atau ketegasan sebagai bukti keburukan.
Saya justru khawatir ketika adab hanya digunakan untuk menuntut orang lain agar tidak membuat kita tersinggung, sementara kita sendiri tidak merasa perlu mempertimbangkan apakah tindakan kita telah melukai, merugikan, atau merendahkan orang lain.
Jangan-jangan, yang sedang kita pertahankan bukan adab, melainkan kenyamanan diri sendiri.
---
Di lingkungan sosial, dunia kerja, birokrasi, organisasi, dan kehidupan publik, persoalan etika, moral, dan adab menjadi semakin penting karena tindakan seseorang tidak selalu berhenti pada dirinya sendiri.
Sebuah keputusan dapat memengaruhi nasib banyak orang. Sebuah kewenangan dapat digunakan untuk melayani kepentingan umum atau justru melindungi kepentingan pribadi. Sebuah jabatan dapat menjadi sarana pengabdian atau berubah menjadi alasan untuk menuntut perlakuan istimewa.
Di sinilah etika tidak cukup dipahami sebagai kumpulan larangan yang harus dipatuhi agar seseorang terhindar dari sanksi. Etika juga menyangkut kesediaan mempertanyakan apakah kekuasaan digunakan secara patut, apakah keputusan dibuat secara adil, dan apakah kepentingan masyarakat sungguh-sungguh ditempatkan sebagai pertimbangan utama.
Moral menuntut seseorang tetap memegang nilai kebaikan ketika berhadapan dengan godaan. Adab mengingatkannya bahwa kewenangan tidak menghapus kewajiban menghormati orang lain.
Jabatan, misalnya, memberikan seseorang kewenangan tertentu. Namun, jabatan tidak otomatis menjadikannya lebih bijaksana, lebih benar, atau lebih mulia daripada orang yang tidak memilikinya. Kedudukan formal menjelaskan posisi seseorang dalam struktur organisasi, bukan menentukan keseluruhan kualitas pribadinya.
Orang yang memiliki jabatan tetap dapat keliru. Orang yang berada di bawah kewenangannya tetap dapat menyampaikan kebenaran. Dan orang yang tidak memiliki kekuasaan formal tetap memiliki martabat yang wajib dihormati.
Begitu pula dengan pengetahuan dan pendidikan. Gelar akademik dapat menunjukkan capaian pendidikan, tetapi tidak otomatis menjamin keluhuran moral. Kefasihan berbicara dapat menunjukkan kemampuan retorika, tetapi tidak selalu membuktikan kedalaman pemahaman. Popularitas dapat menunjukkan luasnya perhatian publik, tetapi tidak dengan sendirinya menjadi ukuran integritas.
Kita tentu tidak perlu meremehkan jabatan, pendidikan, atau prestasi. Semuanya memiliki nilai dan fungsi penting. Namun, kita perlu menempatkannya secara proporsional.
Sebab, ketika simbol keberhasilan lebih dihargai daripada kualitas perilaku, manusia dapat terjebak dalam perlombaan untuk terlihat baik, alih-alih bersungguh-sungguh menjadi baik.
Kita lalu sibuk membangun citra, tetapi lalai membangun karakter. Sibuk mempertahankan kehormatan di mata orang lain, tetapi kurang memperhatikan apakah tindakan kita memang layak dihormati.
Padahal, kehormatan yang hanya bergantung pada penilaian orang lain merupakan sesuatu yang rapuh. Ia dapat berubah mengikuti kepentingan, suasana, dan selera publik.
Integritas bekerja dengan cara berbeda. Ia menuntut konsistensi antara prinsip, perkataan, dan tindakan, bahkan ketika konsistensi itu tidak memberikan keuntungan langsung.
---
Saya juga memikirkan bagaimana agama, pendidikan, dan tradisi seharusnya menempati posisi dalam persoalan ini.
Agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan, tanggung jawab, kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama. Pendidikan membantu manusia mengembangkan pengetahuan, penalaran, dan kemampuan menilai tindakan. Tradisi menyediakan berbagai pedoman kepantasan yang diwariskan dan dipelihara dalam kehidupan bersama.
Namun, semuanya membutuhkan penghayatan, bukan sekadar pengulangan.
Seseorang dapat menghafal banyak nasihat, tetapi belum tentu memahami bagaimana menerapkannya dalam situasi yang rumit. Seseorang dapat mengetahui banyak aturan, tetapi belum tentu memiliki keberanian untuk menjalankannya ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi. Seseorang dapat membanggakan tradisi, tetapi lupa bahwa tradisi juga perlu dipahami secara kritis agar tidak digunakan untuk membenarkan ketidakadilan.
Dalam khazanah Islam, adab memiliki tempat yang penting karena berhubungan dengan pembentukan manusia yang mampu mengenali kedudukan sesuatu secara tepat dan bertindak sesuai dengan tuntutan kebaikan. Adab bukan hanya perkara hubungan antarmanusia, melainkan juga menyangkut tanggung jawab terhadap ilmu, amanah, lingkungan, dan kehidupan itu sendiri.
Ilmu, misalnya, semestinya membuat seseorang semakin sadar akan batas pengetahuannya. Semakin banyak yang diketahui, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakan pengetahuan itu secara benar.
Akan tetapi, tidak jarang pengetahuan justru digunakan untuk meninggikan diri, meremehkan orang lain, atau memenangkan perdebatan dengan segala cara.
Di titik ini, kita patut bertanya: apakah ilmu telah membuat kita lebih bijaksana, atau hanya membuat kita lebih terampil menyusun alasan untuk membenarkan diri?
Pertanyaan tersebut berlaku bagi siapa saja, termasuk mereka yang merasa telah mengabdikan diri kepada dunia pendidikan, kebudayaan, keagamaan, dan pelayanan masyarakat.
Tidak ada bidang kehidupan yang secara otomatis membebaskan manusia dari kemungkinan berbuat salah. Tidak ada profesi yang dengan sendirinya menjamin seseorang selalu bertindak benar. Dan tidak ada identitas sosial yang membuat seseorang kebal terhadap kewajiban untuk terus memperbaiki diri.
Karena itu, pendidikan etika, penguatan moral, dan pembiasaan adab seharusnya tidak berhenti pada penyampaian materi atau pengulangan slogan. Ketiganya perlu diuji dalam praktik, dalam pengambilan keputusan, dalam cara menghadapi perbedaan, dan dalam kesediaan mengakui kesalahan.
Barangkali, salah satu tanda bahwa seseorang sungguh belajar adalah kemampuannya berkata, "Saya keliru," tanpa merasa bahwa pengakuan itu menghancurkan seluruh harga dirinya.
Sebab, mengakui kesalahan tidak selalu berarti kehilangan kehormatan. Dalam banyak keadaan, justru itulah awal dari pemulihan kepercayaan.
---
Lalu, bagaimana dengan diri kita sendiri?
Saya sengaja mengajukan pertanyaan ini karena renungan tentang etika, moral, dan adab akan kehilangan maknanya apabila hanya berakhir sebagai daftar kekurangan orang lain.
Kita bisa menulis panjang lebar tentang kejujuran, tetapi apakah kita selalu jujur ketika kebenaran merugikan kepentingan sendiri? Kita bisa berbicara tentang keadilan, tetapi apakah kita tetap adil ketika harus menilai seseorang yang tidak kita sukai? Kita bisa menyerukan penghormatan, tetapi apakah kita juga menghormati orang yang tidak memiliki jabatan, kekayaan, popularitas, atau pengaruh?
Kita bisa menuntut orang lain agar bersikap dewasa, tetapi apakah kita cukup dewasa untuk menerima kritik? Kita bisa menginginkan orang lain meminta maaf, tetapi apakah kita sendiri bersedia meminta maaf ketika melakukan kesalahan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu nyaman. Namun, barangkali justru ketidaknyamanan itulah yang membuatnya perlu diajukan.
Sebab, introspeksi bukan kegiatan mencari-cari kesalahan diri untuk kemudian merendahkan diri sendiri. Introspeksi adalah keberanian untuk melihat diri secara jujur, menerima kenyataan yang tidak selalu menyenangkan, dan memperbaiki sesuatu yang masih dapat diperbaiki.
Kita tidak mungkin menjadi manusia yang sempurna. Kita akan terus berhadapan dengan kelemahan, prasangka, kepentingan, dan godaan. Namun, ketidaksempurnaan bukan alasan untuk berhenti memperbaiki diri.
Yang perlu kita hindari bukan semata-mata kemungkinan melakukan kesalahan, melainkan kebiasaan membenarkan kesalahan hanya karena kita yang melakukannya.
Mungkin, di situlah letak salah satu ujian paling penting dalam kehidupan moral manusia: apakah kita bersedia tunduk pada prinsip yang kita tuntut dari orang lain?
Jika kita menolak kebohongan, kita pun harus bersedia berkata jujur. Jika kita menuntut keadilan, kita harus bersedia diperlakukan dengan ukuran yang sama. Jika kita menghendaki penghormatan, kita perlu belajar menghormati. Dan jika kita menginginkan orang lain mengakui kesalahannya, kita pun harus menyediakan ruang bagi diri sendiri untuk mengakui kesalahan.
Kebaikan tidak menjadi lebih ringan hanya karena kita mengucapkannya. Ia justru mulai menemukan maknanya ketika menuntut pengorbanan, kedisiplinan, dan keberanian untuk dijalankan.
---
Di luar sana, jerebu mungkin masih mengaburkan pandangan. Udara mungkin belum sepenuhnya bersih. Kita berharap keadaan segera membaik agar dapat kembali menghirup udara dengan lega dan melihat cakrawala dengan lebih jernih.
Namun, jerebu yang terlihat oleh mata bukanlah satu-satunya hal yang dapat mengaburkan pandangan manusia.
Ada pula kabut kepentingan yang membuat kita sulit membedakan mana yang benar-benar bermanfaat bagi banyak orang dan mana yang hanya menguntungkan diri sendiri. Ada kabut kesombongan yang membuat kita merasa selalu benar. Ada kabut prasangka yang membuat kita menilai seseorang sebelum memahami persoalannya. Ada pula kabut kepura-puraan yang membuat penampilan seolah-olah lebih penting daripada kenyataan.
Kabut-kabut semacam itu tidak dapat disingkirkan hanya dengan membuka jendela atau menunggu angin bertiup. Kita harus bersedia memeriksa cara berpikir, keyakinan, dan perilaku kita sendiri.
Etika membantu kita mempertanyakan dasar tindakan. Moral mengingatkan kita pada nilai yang seharusnya dipertahankan. Adab menuntun kita mewujudkan nilai tersebut dalam cara hidup yang menghormati martabat sesama.
Ketiganya bukan sekadar istilah yang bagus untuk dibicarakan. Ketiganya adalah pekerjaan yang harus terus-menerus dilakukan manusia terhadap dirinya sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
Saya tidak sedang menulis ini dari tempat yang lebih tinggi daripada siapa pun. Saya pun masih harus belajar, memeriksa diri, dan memperbaiki banyak hal. Sebab, menulis tentang kebaikan tidak otomatis membuat seseorang menjadi baik. Mengetahui kekurangan orang lain tidak otomatis membuat seseorang bebas dari kekurangan serupa.
Barangkali, justru karena itulah menulis menjadi penting: bukan untuk mengumumkan bahwa kita telah sampai pada suatu kebijaksanaan, melainkan untuk mencatat perjalanan berpikir, menguji keyakinan, dan mengingatkan diri sendiri agar tidak berhenti belajar.
Akhir pekan ini, saya ingin memperlakukan renungan ini sebagai semacam jeda. Jeda untuk melihat kembali apa yang telah kita ucapkan, keputusan yang telah kita ambil, orang-orang yang telah kita perlakukan, dan nilai-nilai yang selama ini kita banggakan.
Sebab, persoalannya bukan seberapa fasih kita berbicara tentang etika, seberapa kuat kita mengaku bermoral, atau seberapa santun penampilan kita di hadapan orang lain.
Persoalannya adalah apakah semua itu sungguh-sungguh hadir ketika kita menjalani kehidupan.
Apakah kita tetap jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan? Apakah kita tetap adil ketika keberpihakan lebih menyenangkan? Apakah kita tetap santun ketika kemarahan menguasai diri? Apakah kita tetap menghormati orang lain ketika kita memiliki kekuasaan untuk merendahkannya?
Dan yang tidak kalah penting: apakah kita berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada diri sendiri sebelum mengarahkannya kepada orang lain?
Saya kira, kejernihan hidup tidak selalu dimulai dengan kemampuan melihat kesalahan orang lain secara lebih tajam. Terkadang, ia justru dimulai ketika kita berani melihat diri sendiri tanpa terlalu banyak pembelaan.
Jerebu akan berlalu, atau setidaknya kita berharap demikian. Namun, kabut dalam pikiran dan perilaku manusia mungkin membutuhkan waktu lebih panjang untuk disingkirkan.
Kita hanya perlu memulai dari sesuatu yang paling dekat dan paling mungkin kita kendalikan: diri sendiri.
Selamat menikmati akhir pekan. Semoga kita tidak hanya diberi udara yang lebih bersih untuk bernapas, tetapi juga kejernihan hati dan pikiran untuk menimbang, keberanian moral untuk memilih, serta keluhuran adab untuk memperlakukan sesama manusia.
Dan saya teringat pesan mendiang Pak Harto Presiden Republik Indonesia ke - 2 dalam buku biografinya "Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya" (PT Citra Lamtoro Gung Persada,1989) yang diambil dari falsafah Jawa, "Ojo Kagetan, Ojo Gumunan, dan Ojo Dumeh". Jangan mudah kaget, jangan mudah takjub dan jangan mudah mentang-mentang. Lha iya toh? []
Simpang Ampek, 23 Oktober 2026.
Simpang Ampek, 23 Oktober 2026.

0 Komentar