Kembali ka Nagari bukan sekadar slogan politik atau kalimat yang indah didengar saat masa kampanye. Bagi masyarakat Minangkabau, khususnya masyarakat Nagari Sungai Janiah Talu, kembali ka nagari adalah upaya menghidupkan kembali jati diri, marwah adat, serta sistem pemerintahan yang tumbuh dari akar budaya masyarakat sendiri.
Namun perjalanan menuju pemerintahan nagari yang ideal tentu tidak mudah. Di tengah perkembangan zaman, sering muncul ambiguitas dan dualisme antara sistem pemerintahan modern dengan nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun. Karena itu, Nagari Sungai Janiah Talu membutuhkan seorang pemimpin yang bukan hanya memahami tata kelola pemerintahan, tetapi juga mengerti filosofi adat Minangkabau yang menjadi dasar kehidupan masyarakat.
Pemimpin nagari tidak cukup hanya pandai berbicara tentang pembangunan. Ia juga harus mampu menjaga keseimbangan antara aturan pemerintahan dengan nilai adat dan agama. Sebab jika pemerintahan nagari dijalankan tanpa pemahaman adat, maka yang terjadi hanyalah “batuka baruak jo cigak” perubahan yang tidak membawa arah dan kehilangan makna.
Di sinilah sosok Roiz Zulhadi hadir sebagai harapan masyarakat Nagari Sungai Janiah Talu. Dengan latar belakang pendidikan formal S.Pd., M.Pd., beliau memiliki kemampuan intelektual dalam memahami tata kelola pemerintahan dan pembangunan masyarakat. Tidak hanya itu, beliau juga memegang tampuk kaum dengan mewarisi gala adat Datuak Sati, sebuah amanah adat yang menunjukkan kedekatan beliau dengan nilai-nilai budaya Minangkabau.
Perpaduan antara pendidikan, pengalaman sosial, serta pemahaman adat menjadi kekuatan penting dalam memimpin Nagari Sungai Janiah Talu ke depan. Pengalaman beliau dalam organisasi kampus, organisasi kepemudaan, dan pengabdian di kampung halaman membuktikan bahwa beliau tidak lahir tiba-tiba menjelang pemilihan, tetapi tumbuh bersama masyarakat dan memahami kebutuhan masyarakat dari bawah.

Sebagai seorang pengajar, Roiz Zulhadi juga memahami bahwa kemajuan nagari tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata. Nagari yang maju adalah nagari yang mampu melahirkan generasi muda yang cerdas, kritis, berakhlak, dan mau berpartisipasi membangun kampung halaman. Pendidikan dan pembinaan generasi muda menjadi investasi besar untuk masa depan Nagari Sungai Janiah Talu.
Filosofi Minangkabau “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah” bukan hanya semboyan, tetapi harus menjadi arah dalam menjalankan pemerintahan nagari. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga adat, menghormati ulama, merangkul generasi muda, serta membawa pembangunan yang adil dan berpihak kepada masyarakat banyak.
Dengan niat pengabdian sepenuh hati, Roiz Zulhadi bertekad membawa Nagari Talu menuju nagari yang maju, mandiri, dan sejahtera dalam lindungan Allah Ta’ala. Bukan hanya membangun jalan dan gedung, tetapi juga membangkitkan kembali semangat kebersamaan, marwah adat, dan persatuan masyarakat mambangkik batang tarandam untuk masa depan Nagari Sungai Janiah Talu yang lebih baik.
0 Komentar