Ketika “Bapak-Bapak” dalam Buku Itu Menjadi Saya Hari Ini

Oleh: Denni Meilizon (Penulis, Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kab. Pasaman Barat)

Dulu saya tidak benar-benar memahami mengapa seseorang pada usia tertentu memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap manusia. Saya membaca banyak tokoh dalam buku—para ayah, orang tua, atau lelaki yang digambarkan pendiam atau memilih diam, lebih hati-hati, lebih sulit percaya, lebih tenang dalam keramaian, dan lebih tajam membaca sikap manusia.

Saat itu saya bertanya-tanya: mengapa mereka seperti itu? Mengapa mereka memandang tindakan, kelakuan, sikap, sifat, dan karakter manusia dengan cara yang berbeda? Mengapa mereka tampak terlalu penuh pertimbangan?

Hari ini saya mulai memahami jawabannya.

Sebab perlahan, tanpa terasa, “bapak-bapak” dalam buku yang dulu saya baca itu sekarang adalah saya sendiri.

Ternyata sudut pandang tidak lahir begitu saja. Ia dibentuk oleh pengalaman hidup. Oleh benturan-benturan kecil yang terus berulang. Oleh kecewa yang diam-diam mengubah cara melihat manusia. Oleh pertemuan-pertemuan yang meninggalkan kesan. Oleh janji yang tidak ditepati. Oleh kebaikan yang ternyata memiliki kepentingan. Oleh ketulusan yang benar-benar tulus. Oleh kehilangan. Oleh pengkhianatan. Oleh waktu.

Semua itu tersimpan di kepala sebagai arsip kehidupan.

Dalam psikologi, pengalaman seperti ini disebut membentuk schema atau skema berpikir. Ilmuwan Jean Piaget menjelaskan bahwa manusia memahami dunia melalui pola-pola mental yang dibangun dari pengalaman. Ketika masih muda, pola itu masih sederhana. Kita melihat manusia secara lurus: baik atau buruk, jujur atau bohong, kawan atau lawan.

Namun semakin banyak pengalaman hidup, otak terus memperbarui cara membaca manusia. Pengalaman lama menjadi bahan pertimbangan untuk memahami situasi baru. Karena itu, semakin bertambah usia seseorang, semakin kompleks pula cara ia melihat perilaku manusia.

Saya baru menyadari bahwa otak ternyata bekerja seperti perpustakaan pengalaman.

Setiap kejadian disimpan sebagai indikator. Cara seseorang berbicara. Cara ia hadir saat membutuhkan sesuatu. Cara ia berubah ketika memiliki kepentingan. Cara ia memperlakukan orang lain saat memiliki kuasa. Semua direkam diam-diam oleh pikiran.

Dalam psikologi kognitif, proses ini dikenal sebagai pattern recognition—kemampuan otak mengenali pola dari pengalaman yang berulang. Ketika menghadapi seseorang atau situasi tertentu, otak tidak lagi memulai penilaian dari nol. Ia membandingkan keadaan sekarang dengan pengalaman sebelumnya.

Mungkin itulah sebabnya hari ini saya sering “merasakan” sesuatu bahkan sebelum semuanya terjadi. Bukan karena paling pintar membaca manusia, tetapi karena pengalaman sudah terlalu banyak meninggalkan pola yang mirip.

Daniel Kahneman seorang Psikolog tapi penerima hadiah Nobel bidang ekonomi menjelaskan bahwa manusia memiliki dua sistem berpikir. Sistem pertama bekerja cepat, intuitif, dan dipengaruhi pengalaman. Sistem kedua bekerja lebih lambat dan analitis. Ketika seseorang telah melalui banyak pengalaman hidup, intuisi sosialnya biasanya menjadi lebih kuat karena pikirannya memiliki banyak data untuk dibandingkan.

Karena itu kadang seseorang yang lebih tua terlihat lebih diam dalam kerumunan. Lebih selektif dalam percaya. Lebih berhati-hati terhadap pujian. Lebih tenang menghadapi konflik. Bukan karena ia membenci manusia, melainkan karena ia telah terlalu sering melihat pola yang sama berulang.

Saya mulai memahami mengapa sebagian orang memilih menjaga jarak tanpa harus memusuhi. Mengapa ada orang yang tidak lagi mudah kagum pada kata-kata. Mengapa ada yang lebih banyak memperhatikan tindakan daripada ucapan.

Pengalaman hidup membuat seseorang belajar bahwa manusia sering kali berbeda antara apa yang dikatakan, apa yang ditampilkan, dan apa yang sebenarnya diinginkan.

Dalam teori psikologi perkembangan, Erik Erikson menjelaskan bahwa pada fase kedewasaan tertentu manusia mulai memasuki tahap reflektif: melihat kehidupan bukan hanya berdasarkan emosi sesaat, tetapi berdasarkan makna, pola, dan konsekuensi jangka panjang.

Itulah mengapa cara pandang seseorang berubah seiring usia.

Bukan menjadi lebih buruk. Bukan pula menjadi sinis.

Tetapi menjadi lebih sadar bahwa manusia adalah makhluk yang rumit.

Hari ini saya memahami bahwa pengalaman hidup ternyata bukan hanya mengubah usia seseorang, tetapi juga mengubah cara ia membaca dunia. Dan mungkin salah satu tanda bertambah dewasa bukanlah ketika kita merasa paling benar, melainkan ketika kita mulai memahami mengapa manusia bertindak sebagaimana adanya.

Termasuk memahami diri sendiri.[]

RoemahBuku, 22 Mei 2026

Posting Komentar

0 Komentar