KINALI | SYARIKATMU — Di antara 67 hafidz, hafidzah, dan lulusan yang berdiri penuh kebanggaan pada momen Pelepasan dan Wisuda Tahfidz Kelas IX Tahun Ajaran 2025/2026 Jumat kemarin (14/5), ada tiga nama yang hari itu bersinar lebih terang dari yang lain. Bukan karena mereka berbeda, sebab seluruh lulusan adalah kebanggaan, melainkan karena perjuangan mereka yang mengukir capaian terbaik yang layak diabadikan. Siang itu, Pondok Pesantren ICMU Kinali, mempersembahkan penghargaan tertinggi kepada para pemuncak mereka.
Nama pertama yang dipanggil ke hadapan hadirin dengan penuh kebanggaan adalah Ahmad Hafiz. Santri yang dikenal tekun dan rendah hati ini berhasil menorehkan pencapaian luar biasa dengan menghafal 3 juz Al-Qur'an, sebuah angka yang bukan sekadar bilangan, melainkan representasi dari ratusan jam duduk bersimpuh, mengulang setiap ayat hingga benar-benar melekat dalam ingatan dan jiwa.
Atas capaian tersebut, Ahmad Hafiz dinobatkan sebagai Wisudawan Tahfidz Terbaik, gelar paling bergengsi dalam momen wisuda tahfidz ini. Saat namanya disebut, tepuk tangan membahana di seluruh ruangan. Ditemani sang ibu, Ahmad Hafiz menerima penghargaan diatas panggung.
Ahmad Hafiz adalah bukti nyata bahwa hafalan Al-Qur'an bukan hak istimewa mereka yang berbakat semata, ia adalah buah dari keistiqamahan, dari tekad yang tidak pernah padam meski hari terasa panjang dan ujian terasa berat.
Jika Ahmad Hafiz memukau dengan 3 juz, maka Chayyara Zafina hadir dengan pencapaian yang bahkan lebih membanggakan. Empat juz hafalan Al-Qur'an yang berhasil ia rampungkan dengan sempurna. Santri putri berprestasi ini dinobatkan sebagai Wisudawati Tahfidz Terbaik, gelar yang menjadi mahkota dari sebuah perjalanan panjang yang penuh pengorbanan.
Chayyara, nama yang kelak akan dikenang dalam sejarah angkatan ini, melangkah ke depan dengan tenang dan anggun. Senyumnya sederhana, namun matanya menyimpan kedalaman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Empat juz. Di usianya yang masih belia. Di tengah segala kesibukan belajar dan kehidupan pondok yang penuh dinamika.
Ia adalah teladan nyata bagi para juniornya bahwa perempuan dan Al-Qur'an adalah dua hal yang tak terpisahkan dan bahwa hafidzah terbaik lahir dari rahim keluarga yang mencintai Al-Qur'an dan lingkungan yang mendukung.
Satu lagi nama yang membuat seluruh hadirin berdiri memberikan apresiasi: Essa Latifia Nurillah Santoso. Ia bukan hanya unggul di satu bidang, Essa dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik berdasarkan penilaian tiga dimensi sekaligus: akademik (kognitif), afektif (sikap dan karakter), serta psikomotorik (keterampilan). Sebuah predikat yang mencerminkan kesempurnaan seorang pelajar sejati.
Essa adalah gambaran dari apa yang dicita-citakan oleh setiap lembaga pendidikan Islam: siswa yang tidak hanya cerdas di atas kertas, tetapi juga santun dalam tutur kata, hormat kepada guru, peduli kepada sesama, dan terampil dalam mengerjakan setiap amanah yang dipercayakan kepadanya. Ia adalah bukti hidup bahwa pendidikan yang baik membentuk manusia yang utuh bukan sekadar mencetak nilai, melainkan membentuk karakter.
Ketika namanya diumumkan, Essa menundukkan kepala sejenak, sebuah gestur sederhana yang justru mengungkapkan lebih banyak tentang dirinya daripada deretan prestasi yang tertulis di atas kertas.
Penghargaan pada momen bersejarah ini tidak berhenti pada tiga pemuncak saja.
Sejumlah siswa berprestasi lainnya turut mendapatkan apresiasi atas berbagai pencapaian mereka selama menempuh pendidikan, sebuah pengakuan bahwa setiap usaha, sekecil apapun, layak untuk dihargai dan dirayakan.
Disambut dengan tepuk tangan paling meriah adalah momen pemberian reward berupa uang tunai oleh Paiman, S.Pd. selaku anggota Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kinali.
Sebanyak 9 siswa berprestasi maju satu per satu ke depan panggung untuk menerima reward tersebut secara langsung dari tangan beliau.
Gestur ini bukan sekadar simbolis. Bagi para penerima reward, juga bagi seluruh siswa yang menyaksikan momen ini menjadi pesan yang sangat kuat: bahwa kerja keras tidak pernah sia-sia, dan bahwa lembaga pendidikan yang baik selalu hadir untuk mengakui, menghargai, dan merayakan setiap pencapaian anak didiknya.
Selamat kepada ananda Ahmad Hafiz, Chayyara Zafina, Essa Latifia Nurillah Santoso, dan seluruh penerima penghargaan. Kalian bukan hanya membanggakan diri sendiri, kalian membanggakan keluarga, lembaga, dan seluruh ummat yang telah menaruh harapan besar pada pundak kalian.
Teruslah bersinar — karena cahaya terbaik adalah yang menerangi orang lain.
Penulis: Zeli Utari (Wakil Kurikulum/ Guru Bahasa Inggris)
0 Komentar