Air Mata Kebanggaan di Wisuda Tahfidz: 67 Hafidz dan Hafidzah Pondok Pesantren ICMU Kinali Buktikan Kalam Ilahi Bersemayam di Dada Mereka

KINALI | SYARIKATMU — Ada yang berbeda dari biasanya di Pondok Pesantren ICMU Kinali pada hari yang penuh berkah itu, Jumat (14/5). Langkah kaki para santri tampak lebih tegap, mata mereka bersinar dengan kebanggaan yang tak tersembunyi, dan senyum orangtua merekah sempurna karena hari itu bukan sekadar hari wisuda biasa. Hari itu adalah hari pembuktian bahwa di usia semuda mereka, putra-putri terbaik bangsa ini telah berhasil menjaga dan menghafal Kalam Ilahi di dalam dada mereka.

Pondok Pesantren ICMU Kinali dengan penuh kebanggaan menggelar Wisuda Tahfidz Kelas IX Tahun Ajaran 2025/2026, sebuah momen sakral yang memahkotai perjalanan tiga tahun para santri dalam menghafal Al-Qur'an. Sebanyak 67 hafidz dan hafidzah diwisuda dalam satu prosesi yang khidmat, mengharukan, sekaligus membahagiakan dengan jumlah hafalan yang bervariasi antara 1 hingga 4 juz.

Prosesi wisuda berlangsung dengan nuansa yang sangat menyentuh hati. Satu per satu, para hafidz dan hafidzah maju ke hadapan hadirin untuk menerima pengalungan selempang dan medali, simbol kehormatan bagi seorang penghafal Al-Qur'an. Prosesi sakral ini dipercayakan kepada dua sosok yang sangat dihormati: Drs. Kusnan, guru senior yang telah berdedikasi puluhan tahun dalam dunia pendidikan Islam, serta H. Budi Santoso, S.Pd., M.A., selaku pengawas madrasah yang turut menyaksikan dan memimpin prosesi dengan penuh wibawa.

Tak berhenti di sana. Setiap wisudawan dan wisudawati juga menerima syahadah tahfidz, sertifikat resmi yang menjadi bukti tertulis atas keistiqamahan mereka dalam menjaga hafalan Al-Qur'an. Selembar sertifikat yang mungkin tampak sederhana, namun di baliknya tersimpan ratusan jam menghafal, puluhan malam muraja'ah, dan linangan air mata perjuangan yang tiada henti.

Namun dari seluruh rangkaian acara yang berlangsung hari itu, ada satu momen yang paling dalam mengiris rasa, momen sungkeman. Usai menerima selempang, medali, dan sertifikat, para hafidz dan hafidzah satu per satu berlutut di hadapan ayah dan ibu mereka. Kepala mereka merunduk, tangan orang tua mengusap lembut puncak kepala anak-anak yang kini telah menjadi penghafal Al-Qur'an.

Tangis pecah di mana-mana. Bukan tangis duka, melainkan tangis syukur yang mengalir begitu deras setelah sekian lama ditahan. Para ibu yang sejak pagi tampak tegar, akhirnya tak kuasa membendung air mata ketika merasakan punggung tangan mereka dicium oleh putra-putri yang telah mereka titipkan kepada pondok pesantren ini. Para ayah yang biasanya berdiri kokoh pun tak bisa menyembunyikan genangan di sudut mata mereka.

Prosesi sungkeman ini seolah menjadi pengingat bahwa di balik setiap hafalan yang berhasil dijaga, ada orang tua yang tak pernah berhenti berdoa di sepertiga malam, memohon kepada Allah agar anak-anak mereka dikuatkan, dijaga, dan dimudahkan. Dan hari ini, doa-doa itu terjawab dengan indah.

Mudir Pondok Pesantren ICMU Kinali, Agus Gunawan, S.Pd., menyampaikan sambutan yang begitu dalam dan menyentuh. Dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, beliau menggambarkan betapa luar biasanya pencapaian 67 santri yang hari itu berdiri sebagai hafidz dan hafidzah.

"Anak-anakku, apa yang kalian raih hari ini bukanlah hal yang kecil. Di tengah derasnya arus zaman, di tengah godaan layar dan hiruk-pikuk dunia, kalian memilih untuk duduk, membaca, dan mengulang-ulang Kalam Allah hingga ia melekat dalam ingatan dan hati kalian. Itu adalah pilihan yang agung. Ingatlah, harta bisa habis, jabatan bisa berlalu, tapi hafalan Al-Qur'an yang kalian jaga adalah warisan yang tak akan pernah hilang, ia akan menemani kalian hingga hari kemudian," tuturnya. 

Beliau juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada para ustadz dan ustadzah tahfidz yang telah dengan sabar mendampingi para santri, serta kepada para orang tua yang telah menjadi penyemangat utama di rumah. 

"Pondok Pesantren ICMU Kinali bukan hanya milik kami para pendidik. Ia adalah milik kita bersama dan wisuda hari ini adalah buah dari kebersamaan itu," pungkasnya.

Mewakili Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Sodikun, S.Ag., menyampaikan sepatah kata yang penuh semangat dan visi jauh ke depan. Ia menekankan bahwa program tahfidz yang dijalankan Pondok Pesantren ICMU Kinali adalah investasi peradaban yang hasilnya akan dirasakan jauh melampaui batas ruang dan waktu.

"Muhammadiyah hadir bukan hanya untuk membangun sekolah, tetapi untuk membangun peradaban. Dan peradaban yang kuat hanya bisa dibangun oleh generasi yang dekat dengan Al-Qur'an.

Hari ini, kita menyaksikan 67 bukti nyata bahwa cita-cita itu bukan sekadar mimpi. Kalian, para hafidz dan hafidzah muda ini adalah harapan ummat yang sesungguhnya. Jadilah penjaga Al-Qur'an tidak hanya dalam hafalan, tapi dalam setiap tindakan dan akhlak kalian sehari-hari," ujar beliau dengan takzim dihadapan hadirin..

Wisuda Tahfidz kali ini mendapat perhatian yang luar biasa dari berbagai kalangan. Hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh penting dari unsur pemerintahan, pendidikan, dan kemasyarakatan di Kabupaten Pasaman Barat. Salah satu yang turut hadir dan memberikan apresiasi adalah Eko Supriyono, S.E., anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), yang menyatakan kekagumannya atas pencapaian para santri Pondok Pesantren ICMU Kinali.

Kehadiran para tokoh tersebut menjadi sinyal yang kuat bahwa program tahfidz di Pondok Pesantren ICMU Kinali telah mendapat pengakuan yang luas di masyarakat. Bukan hanya sebagai program keagamaan, tetapi sebagai bagian dari upaya bersama dalam membangun generasi muda yang berkarakter, beriman, dan berdaya saing.
Ketika acara memasuki momen penutup, suasana kembali hening dan khidmat.

Para santri bersalaman dengan para ustadz dan ustadzah, orang tua berpelukan erat dengan putra-putri mereka, dan seluruh sudut pondok dipenuhi lantunan doa dan harapan. Momen yang akan selalu terukir dalam ingatan—bukan hanya oleh 67 hafidz dan hafidzah itu, tetapi oleh setiap jiwa yang hadir menyaksikannya.

Wisuda Tahfidz ini bukan akhir dari sebuah perjalanan—ini adalah awal dari sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab untuk terus menjaga, mengamalkan, dan menyebarluaskan nilai-nilai Al-Qur'an ke mana pun langkah kaki mereka membawa pergi. Dan Pondok Pesantren ICMU Kinali, dengan segala kebanggaannya, melepas mereka, tidak dengan tangan kosong, melainkan dengan bekal paling mulia yang bisa diberikan: hafalan Kalam Allah yang bersemayam kuat di dada mereka.
Selamat, Para Hafidz dan Hafidzah — Semoga Al-Qur'an selalu menjadi cahaya dalam setiap langkah hidupmu.

Penulis: Zeli Utari, S.Pd. (Wakil Kurikulum/ Guru Bahasa Inggris)

Posting Komentar

0 Komentar