Muhammadiyah: Maju dalam Amal Usaha, Namun Perlu Menguatkan Ukhuwwah

Oleh Indra Padri Lubis, SPd.I. (Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kab. Pasaman Barat)

MUHAMMADIYAH selama ini dikenal sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki kemajuan luar biasa dalam berbagai bidang. Amal usaha yang tersebar dari tingkat lokal hingga internasional menjadi bukti nyata kontribusinya bagi umat dan bangsa. Lembaga pendidikan, rumah sakit, hingga gerakan sosial yang dikelola Muhammadiyah tidak hanya berkembang pesat, tetapi juga mampu bersaing secara global. Dalam ranah pemikiran, Muhammadiyah juga tampil progresif—terbuka terhadap pembaruan, rasional, dan responsif terhadap tantangan zaman.

Namun, di balik kemajuan tersebut, terdapat satu aspek yang kerap luput dari perhatian: pembinaan ukhuwwah islamiyah di kalangan internal. Di banyak tempat, hubungan antaranggota Muhammadiyah terasa kurang hangat. Interaksi seringkali terbatas pada forum formal atau kegiatan rutin persyarikatan, seperti rapat, pengajian, atau agenda organisasi lainnya.

Fenomena ini memunculkan kesan bahwa Muhammadiyah sangat kuat secara struktural, tetapi kurang dalam membangun kedekatan emosional antar anggotanya. Tradisi saling mengunjungi, bersilaturahmi di luar agenda resmi, atau sekadar mempererat hubungan personal tampak belum menjadi budaya yang kuat. Padahal, ukhuwwah islamiyah bukan sekadar konsep, melainkan ruh yang seharusnya menghidupkan setiap gerakan dakwah.

Minimnya interaksi nonformal ini berpotensi menimbulkan jarak psikologis di antara anggota. Akibatnya, solidaritas bisa terasa kering, bahkan dalam beberapa kasus, muncul sikap individualistis yang tidak sejalan dengan semangat berjamaah. Ketika hubungan hanya dibangun atas dasar kepentingan organisasi, maka rasa memiliki dan keterikatan emosional terhadap persyarikatan pun bisa melemah.


Padahal, kekuatan sebuah gerakan tidak hanya ditentukan oleh sistem dan amal usahanya, tetapi juga oleh kualitas hubungan antarindividu di dalamnya. Ukhuwwah yang kuat akan melahirkan kepercayaan, kepedulian, dan semangat kebersamaan yang lebih kokoh. Ini penting, terutama dalam menghadapi tantangan dakwah yang semakin kompleks.

Oleh karena itu, Muhammadiyah perlu memberi perhatian lebih pada penguatan ukhuwwah islamiyah di tingkat akar rumput. Kegiatan informal seperti kunjungan antaranggota, majelis kecil berbasis kekeluargaan, atau program sosial yang melibatkan interaksi personal bisa menjadi solusi. Tidak harus besar atau formal—yang penting mampu menumbuhkan rasa kedekatan dan kebersamaan.

Muhammadiyah telah membuktikan diri sebagai organisasi yang maju dalam amal usaha dan pemikiran. Kini, tantangannya adalah melengkapi kemajuan tersebut dengan kehangatan ukhuwah. Sebab, gerakan yang besar tidak hanya dibangun oleh ide dan institusi, tetapi juga oleh hati yang saling terhubung.

Dengan menyeimbangkan kemajuan intelektual dan kekuatan emosional, Muhammadiyah tidak hanya akan menjadi organisasi yang besar, tetapi juga kokoh dan berjiwa.[]                                  

Ampar Putih, 18 Maret 2026

Posting Komentar

0 Komentar