Oleh Denni Meilizon, S.AP
BEBERAPA hari belakangan ini, saya keasyikan menonton beberapa serial bikinan Hollywood yang tayang di Netflix terkait Pemerintahan Amerika yaitu, The Diplomat, The West Wing dan House of Cards di tengah berita dan tayangan konflik perang yang terpicu di kawasan Timur Tengah, yang agaknya belum akan berhenti hingga hari ini.
Kadang-kadang, untuk memahami bagaimana dunia sebenarnya bekerja, kita tidak cukup hanya membaca berita internasional. Kita juga perlu melihat bagaimana kekuasaan dibayangkan dan diceritakan dalam budaya populer.
Laporan media memberi kita fakta: siapa bertemu siapa, negara mana menjatuhkan sanksi, atau kapal perang mana yang bergerak ke suatu wilayah. Namun laporan seperti itu jarang memperlihatkan bagaimana keputusan itu benar-benar lahir—perdebatan di balik meja, konflik kepentingan di dalam pemerintahan, atau kalkulasi pribadi para pemimpin.
Drama politik Amerika selama dua dekade terakhir telah menjadi semacam simulator geopolitik bagi publik global. Melalui serial televisi, jutaan penonton dari berbagai negara diajak membayangkan bagaimana keputusan besar dibuat di Washington, bagaimana krisis internasional ditangani, dan bagaimana diplomasi dijalankan di balik pintu tertutup.
Tiga serial menonjol menurut saya dalam membentuk imajinasi tersebut: The Diplomat, House of Cards, dan The West Wing.
Ketiganya menawarkan gambaran yang sangat berbeda tentang politik Amerika. Tetapi jika dibaca secara bersama-sama, ketiganya sebenarnya menggambarkan tiga wajah utama politik global: idealisme liberal, realisme kekuasaan, dan diplomasi krisis dalam sistem internasional yang rapuh.
Ketika The West Wing pertama kali tayang pada akhir 1990-an, dunia berada dalam fase optimisme pasca–Perang Dingin.
Banyak pengamat percaya bahwa demokrasi liberal telah memenangkan pertarungan ideologis melawan komunisme dan bahwa globalisasi akan membawa stabilitas baru bagi dunia.
Serial ini mencerminkan suasana tersebut.
Presiden Josiah Bartlet dan timnya digambarkan sebagai kelompok intelektual yang percaya bahwa kebijakan publik dapat dirumuskan melalui rasionalitas, moralitas, dan dedikasi terhadap kepentingan publik. Konflik politik memang ada, tetapi biasanya dapat diselesaikan melalui dialog, kompromi, dan kepercayaan terhadap institusi demokrasi.
Pandangan dunia ini sangat dekat dengan teori Liberal Institutionalism dalam hubungan internasional. Teori ini berargumen bahwa konflik antarnegara tidak selalu tak terhindarkan; melalui institusi internasional, norma global, dan kerja sama multilateral, negara-negara dapat menciptakan stabilitas bersama.
Dengan kata lain, dunia yang dibayangkan oleh The West Wing adalah dunia di mana politik masih dipercaya sebagai alat untuk memperbaiki keadaan.
Namun optimisme tersebut tidak bertahan lama.
Ketika House of Cards muncul pada dekade berikutnya, suasana politik Amerika telah berubah. Polarisasi meningkat, kepercayaan terhadap institusi politik menurun, dan publik semakin skeptis terhadap elit kekuasaan.
Serial ini menggambarkan politik dengan cara yang jauh lebih sinis.
Karakter Frank Underwood—yang diperankan oleh Kevin Spacey—melihat kekuasaan bukan sebagai sarana pelayanan publik, tetapi sebagai tujuan itu sendiri. Dalam dunia House of Cards, manipulasi, pengkhianatan, dan konspirasi bukanlah penyimpangan dari sistem politik; mereka adalah bagian dari cara sistem itu bekerja.
Pandangan dunia seperti ini sangat dekat dengan teori Realisme dalam hubungan internasional.
Realisme berangkat dari asumsi bahwa sistem internasional bersifat anarkis: tidak ada otoritas global yang mampu memaksakan aturan kepada semua negara. Dalam kondisi seperti itu, aktor politik—baik individu maupun negara—bertindak terutama untuk mempertahankan kekuasaan dan keamanan mereka sendiri.
Dalam perspektif ini, moralitas sering kali menjadi sekunder dibandingkan dengan kepentingan strategis.
House of Cards membawa logika tersebut ke tingkat ekstrem, menggambarkan politik sebagai permainan kekuasaan yang hampir nihilistik.
Di antara dua kutub tersebut berdiri The Diplomat.
Serial ini diciptakan oleh Debora Cahn, penulis yang sebelumnya terlibat dalam Homeland dan The West Wing.
Namun The Diplomat tidak sepenuhnya mengikuti idealisme salah satu serial tersebut.
Sebaliknya, ia mencoba menggambarkan politik internasional sebagai sesuatu yang jauh lebih rapuh dan penuh ketidakpastian.
Tokoh utama serial ini, Kate Wyler—yang diperankan oleh Keri Russell—adalah seorang diplomat karier yang lebih terbiasa bekerja di zona konflik daripada di ruang resepsi diplomatik.
Ia tiba-tiba diangkat menjadi Duta Besar Amerika Serikat untuk Inggris ketika dunia berada di ambang krisis setelah sebuah kapal militer Inggris meledak di kawasan geopolitik sensitif.
Insiden tersebut segera memicu kecurigaan global terhadap berbagai negara—sebuah gambaran klasik dari logika realisme dalam hubungan internasional.
Namun serial ini juga menunjukkan bahwa ancaman geopolitik tidak selalu datang dari rival eksternal. Ketika penyelidikan berkembang, muncul kemungkinan bahwa krisis tersebut sebenarnya merupakan hasil kalkulasi politik domestik di dalam Inggris sendiri.
Dalam hal ini, The Diplomat mengingatkan pada satu prinsip penting dalam politik internasional: bahwa konflik global sering kali merupakan perpanjangan dari politik domestik.
Baik The Diplomat maupun dua serial lain tersebut secara tidak langsung menggambarkan konsep klasik dalam teori hubungan internasional: Balance of Power.
Menurut konsep ini, stabilitas dunia tidak muncul karena negara-negara saling percaya. Sebaliknya, stabilitas tercipta karena mereka saling menyeimbangkan kekuatan.
Negara membentuk aliansi.
Meningkatkan kekuatan militer.
Memperluas pengaruh diplomatik.
Tujuannya bukan menciptakan harmoni global, tetapi mencegah dominasi satu kekuatan besar.
Dalam The Diplomat, dinamika ini terlihat dalam hubungan antara Amerika Serikat, Inggris, dan berbagai aktor internasional lainnya. Aliansi Barat tidak digambarkan sebagai kesatuan yang sempurna, tetapi sebagai jaringan kepentingan yang sering kali dipenuhi ketegangan internal.
Di dalam dunia yang seperti ini, diplomasi bukanlah upaya menciptakan perdamaian ideal.
Diplomasi adalah usaha tanpa henti untuk menjaga keseimbangan yang rapuh.
Namun yang membuat The Diplomat benar-benar berbeda dari banyak drama politik lain adalah fokusnya pada kehidupan pribadi para diplomat.
Hubungan antara Kate Wyler dan suaminya—Hal Wyler, yang diperankan oleh Rufus Sewell—menjadi pusat emosional serial ini.
Hubungan mereka dipenuhi ambisi profesional yang bertabrakan, kecemburuan politik, dan manipulasi emosional yang sering kali brutal.
Tetapi justru dari hubungan inilah serial tersebut menemukan jiwanya.
Jika House of Cards menggambarkan politik sebagai permainan kekuasaan yang dingin, dan The West Wing sebagai proyek idealisme demokratis, maka The Diplomat menunjukkan sesuatu yang lebih dekat dengan kenyataan: bahwa keputusan geopolitik sering kali dibuat oleh individu dengan kehidupan pribadi yang kompleks.
Dalam arti tertentu, pernikahan Wyler menjadi metafora kecil bagi politik internasional—sebuah negosiasi tanpa akhir antara aktor-aktor dengan kepentingan berbeda yang tetap terikat dalam sistem yang sama.
Mengapa serial-serial seperti ini begitu menarik bagi publik global?
Karena mereka menawarkan sesuatu yang jarang diberikan oleh analisis geopolitik formal: cerita manusia tentang kekuasaan.
Melalui drama politik, Hollywood menyederhanakan kompleksitas geopolitik menjadi narasi yang dapat dipahami publik luas. Konflik antarnegara berubah menjadi konflik antarindividu. Strategi militer berubah menjadi dilema moral. Dengan cara ini, budaya populer membantu membentuk imajinasi global tentang bagaimana kekuasaan bekerja.
Pada akhirnya, ketiga serial ini menawarkan tiga cara berbeda melihat politik global.
The West Wing percaya bahwa institusi dan moralitas dapat memperbaiki dunia.
House of Cards melihat politik sebagai permainan kekuasaan yang brutal.
Sementara The Diplomat berada di antara keduanya—menggambarkan diplomasi sebagai upaya manusia untuk mengelola krisis dalam sistem global yang tidak sempurna.
Dalam dunia nyata, politik internasional mungkin tidak sepenuhnya seperti yang digambarkan oleh salah satu serial tersebut.
Namun jika ada satu pelajaran yang dapat diambil dari semuanya, mungkin ini, bahwa di balik strategi militer, doktrin keamanan nasional, dan kalkulasi geopolitik, politik global tetaplah drama manusia.
Drama yang dipenuhi ambisi, ketakutan, kompromi, dan keputusan yang harus dibuat dalam kondisi ketidakpastian.
Dan mungkin itulah sebabnya cerita-cerita ini terasa begitu relevan.
Karena pada akhirnya, kita semua ingin memahami satu pertanyaan yang sama, yaitu bagaimana sebenarnya dunia diputuskan di balik pintu tertutup kekuasaan.
Saya perlu menonton satu serial lagi, masih tayang agaknya di Netflix, Judulnya "Designated Survivor", menceritakan apakah yang terjadi jika negara Paman Sam diserang langsung?[]
Penulis adalah Sastrawan, Pimred media Syarikatmu, Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kab. Pasaman Barat, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Administrasi Publik Universitas Negeri Padang
.png)
0 Komentar