Muhasabah : Menyiapkan Bekal Hari Esok

Oleh : Sulpandri, S.Sos.I 

(Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sungai Aur) 

PERGANTIAN tahun dalam hitungan kalender masehi merupakan suatu kepastian dan tidak terdapat perdebatan di dalamnya. Meski tahun masehi bukan masuk dalam kalender Islam, namun momentum ini baik dimanfaatkan untuk muhasabah diri. Muhasabah diri pada dasarnya tidaklah ditentukan oleh ruang dan waktu, muhasabah diri baik dilakukan setiap hari bahkan setiap saat. 

Dalam muhasabah diri tentunya kembali kita mendalami makna dalam Q.S. Al-Hasyir: 18  “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.”

QS. Al-Hasyr ayat 18 adalah seruan lembut sekaligus tegas dari Allah kepada orang-orang beriman. Ayat ini tidak sekadar memerintahkan orang beriman untuk tetap bertakwa, tetapi mengajak manusia beristirahat sebentar saja untuk memperhatikan, melihat ke dalam diri,  sudahkah hidup ini berjalan ke arah yang benar?

Allah SWT mengawali ayat ini dengan panggilan iman/keimanan sebuah isyarat bahwa muhasabah adalah ciri orang beriman. Keimanan tidak cukup diucapkan semata, tetapi harus diwujudkan dalam kesadaran untuk terus memperbaiki diri. Karena itu, perintah “bertakwalah kepada Allah” diulang dua kali, menandakan betapa pentingnya ketakwaan sebagai penuntun setiap langkah dalam hidup.

Frasa “hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok” mengajarkan orientasi hidup yang jauh ke depan. “Hari esok” bukan sekadar masa depan dunia, melainkan kehidupan akhirat. Setiap amal hari ini adalah bekal untuk hari akhirat nantinya. Tidak ada perbuatan yang sia-sia; semua tercatat, semua akan dipertanggungjawabkan.

Untuk mempersiapkan bekal hari esok, melalui surat ini setidaknya ada 4 poin penting yang harus ditanamkan didalam diri orang yang beriman;

Pertama, menguatkan ketakwaan sebagai pondasi hidup. Setiap bangunan membutuhkan pondasi yang kokoh. Semakin tinggi bangunan itu berdiri, semakin kuat pula pondasinya harus dibangun. Begitu pula kehidupan manusia. Tanpa ketakwaan, hidup mudah rapuh oleh ujian, goyah oleh godaan, dan lelah oleh ambisi dunia.

Ketakwaan bukan hanya tentang banyaknya ibadah ritual, tetapi kesadaran penuh bahwa Allah selalu hadir dalam setiap pilihan hidup. Dari ketakwaan lahir kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, serta keberanian untuk tetap benar meski sendirian. Dalam Al-Qur`an Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ketika ketakwaan menjadi pondasi, iman menjadi kuat, amal menjadi terarah, dan akhlak menjadi penuntun. Ujian tidak selalu hilang, tetapi hati menjadi lebih tenang dalam menghadapinya. Kegagalan tidak mematahkan, justru menguatkan keyakinan untuk kembali kepada Allah.

Kedua, muhasabah suatu keharusan. Dalam perjalanan hidup  muhasabah bukanlah pilihan, akan tetapi suatu  keharusan. Tanpa muhasabah, kita mudah merasa benar, cepat menyalahkan, dan lupa memperbaiki diri. Padahal kesalahan terbesar sering kali tersembunyi dalam hati yang jarang diajak bercermin.

Muhasabah mengajarkan kita untuk jujur pada diri sendiri sebelum menuntut orang lain. Ia menundukkan ego, meluruskan niat, dan mengingatkan bahwa setiap langkah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Dengan muhasabah, kita menyadari bahwa amal tak selalu sebersih yang kita kira, niat tak selalu setulus yang kita ucapkan, dan ibadah masih membutuhkan perbaikan. Namun justru dari kesadaran itulah lahir taubat, keikhlasan, dan semangat untuk menjadi lebih baik.

Muhasabah menjaga hati agar tetap hidup, iman agar tetap tumbuh, dan langkah agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah. Sebab orang yang enggan bermuhasabah, sejatinya sedang berjalan tanpa arah.

Ketiga, hidup harus selalu berorentasi akhirat. Hidup di dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan menuju kehidupan yang kekal. Ketika orientasi hidup hanya berhenti pada dunia, manusia mudah lelah, kecewa, dan gelisah. Sebab dunia tak pernah benar-benar memberi kepuasan, sementara akhirat menjanjikan keadilan dan keabadian.

Orientasi akhirat bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menempatkannya pada posisi yang benar. Dunia dijadikan sarana, bukan tujuan. Harta menjadi amanah, jabatan menjadi tanggung jawab, dan ilmu menjadi jalan pengabdian.

Allah SWT berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77).

Ketika akhirat menjadi arah utama, setiap amal kecil bernilai ibadah, setiap kesulitan menjadi ladang pahala, dan setiap pilihan ditimbang dengan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Hidup pun lebih terarah, hati lebih tenang, dan langkah lebih bermakna.

Keempat, menyadari bahwa Allah Swt maha mengetahui . Dalam Al-Qur`an surat  Ghafir: 19 Allah Swt berfirman ; “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”.

Tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Allah. Apa yang tersembunyi di hati, yang terlintas di pikiran, hingga langkah kecil yang kita anggap sepele, semuanya dalam pengawasan-Nya. Kesadaran inilah yang seharusnya membentuk sikap hidup seorang mukmin.

Ketika kita benar-benar menyadari bahwa Allah mengetahui segalanya, kita akan berhati-hati dalam niat, jujur dalam amal, dan takut berbuat dosa meski tak ada manusia yang melihat. Menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui adalah kunci ketakwaan. Ia menjaga kita saat sendiri, dan menuntun kita untuk selalu berada di jalan yang diridhai-Nya.

Dalam kehidupan yang serba cepat, QS. Al-Hasyr ayat 18 mengajak kita merenung, mengevaluasi, dan menata kembali arah hidup. Sudahkah ilmu membawa kita semakin rendah hati? Sudahkah jabatan membuat kita semakin amanah? Sudahkah ibadah melahirkan akhlak yang mulia?

Ayat ini pada akhirnya mengajarkan kepemimpinan diri. Sebelum memimpin orang lain, seseorang harus mampu memimpin nafsunya. Sebelum menuntut perubahan, ia harus berani bercermin dan berubah. Karena sebaik-baik persiapan untuk hari esok adalah hati yang bertakwa dan amal yang ikhlas.[]

 

 ----
Redaksi menerima tulisan berupa artikel layak muat yang dikirimkan ke WA 0813-7860-5943. Lengkapi dengan biodata pendek. Artikel yang dimuat belum dapat kami berikan honorarium. 


Posting Komentar

0 Komentar