TBM Pondok Baca Olalaa dan TBM Rumah Baca Ara Bahagiakan Anak-anak Sungai Aur dengan Buku Bacaan Bermutu

 

Sungai Aur, SYARIKATMU -  Pagi itu (Sabtu, 2 Mei 2026) lokasi acara Panggung Karya yang ditaja Komunitas Seni Serumpun Aua dalam rangka peringatan Hari Tari Sedunia dan HARDIKNAS 2026 belum sepenuhnya ramai ketika tikar-tikar mulai digelar di bawah rindang pepohonan Taman Wisata Beringin. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan yang basah oleh sisa embun. Namun, sesuatu yang berbeda sedang tumbuh di sana—bukan sekadar keramaian biasa, melainkan denyut kecil gerakan literasi yang perlahan menghidupkan ruang.

Di bawah naungan pohon-pohon tua itu, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Olalaa kembali membuka “lapaknya”. Bukan lapak jual beli, melainkan lapak ilmu—tempat buku-buku disusun, dibuka, dan dibaca dengan cuma-cuma. Sabtu, 2 Mei 2026, menjadi saksi bagaimana literasi menjelma menjadi pengalaman yang hangat dan membahagiakan bagi anak-anak Sungai Aur.


Sejak pukul 10.00 WIB, anak-anak mulai berdatangan. Ada yang datang berkelompok, ada pula yang digandeng orang tua. Mereka duduk bersila di atas tikar, membuka halaman demi halaman buku dengan rasa ingin tahu yang tampak jujur. Sekitar seratus anak memadati ruang itu—sebuah angka yang mungkin sederhana, tetapi menyimpan harapan besar.

Di sisi lain lapak, beberapa anak tampak asyik mewarnai. Krayon beradu dengan kertas, membentuk dunia mereka sendiri—penuh warna, bebas, dan tanpa batas. Tawa sesekali pecah, bercampur dengan suara halaman buku yang dibalik. Tidak ada tekanan, tidak ada aturan kaku. Semua mengalir seperti permainan yang diam-diam mendidik.

Kegiatan ini bukanlah kerja tunggal. Ia lahir dari kolaborasi: TBM Olalaa, Komunitas Seni Serumpun Aua, serta dukungan dari Forum Pegiat Literasi dan Forum TBM Pasaman Barat. Bahkan, TBM Rumah Baca Ara turut hadir membuka lapak baca, menambah ragam buku dan memperluas ruang imajinasi anak-anak.


 

Di sinilah kekuatan gerakan itu terasa—bahwa literasi tidak berdiri sendiri. Ia berjalan berdampingan dengan seni, dengan komunitas, dengan semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat.

“Literasi tidak harus selalu berada di ruang formal,” ujar salah satu pengelola TBM Olalaa. Kalimat itu sederhana, tetapi menemukan bentuknya secara nyata di bawah pohon beringin hari itu. Anak-anak membaca sambil tertawa, belajar sambil bermain, dan tanpa sadar sedang membangun fondasi masa depan mereka.

Tidak jauh dari lapak baca, panggung kecil menjadi pusat perhatian. Di sana, lomba tari dan baca puisi tingkat SD/MI se-Kecamatan Sungai Aur tengah berlangsung. Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Tari Sedunia dan Hari Pendidikan Nasional—dua momentum yang seolah dipertemukan dalam satu napas.

Gerak tari yang luwes memperlihatkan kekayaan budaya lokal yang masih terjaga, sementara lantunan puisi menghadirkan suara-suara kecil yang berani berbicara. Ada anak yang membacakan puisi dengan suara bergetar, ada pula yang tampil penuh percaya diri. Semua tampil dengan cara mereka sendiri—jujur, polos, dan menyentuh.

Di tengah riuhnya tepuk tangan, lapak baca tetap menjadi magnet tersendiri. Anak-anak yang selesai tampil atau menunggu giliran, beralih ke buku. Seolah ada jeda yang menenangkan di antara hiruk-pikuk lomba—jeda yang diisi oleh kata-kata, cerita, dan imajinasi.

Kegiatan ini memperlihatkan satu hal penting: bahwa literasi dan seni bukanlah dua dunia yang terpisah. Keduanya saling menguatkan. Seni memberi warna pada literasi, sementara literasi memberi kedalaman pada seni.

Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bukti bahwa ruang-ruang kecil seperti ini sangat dibutuhkan. Di tengah derasnya arus digital dan distraksi yang semakin kompleks, menghadirkan buku di ruang terbuka menjadi semacam perlawanan yang lembut—tetapi bermakna.

Antusiasme masyarakat menjadi jawaban paling nyata. Orang tua yang mengantar anaknya tidak sekadar menunggu, tetapi ikut menyaksikan, bahkan terlibat. Ada rasa memiliki yang tumbuh—bahwa kegiatan ini bukan milik satu komunitas, melainkan milik bersama.

Ke depan, harapan pun disematkan. Lapak baca gratis ini diharapkan tidak berhenti sebagai peristiwa sesaat, tetapi menjadi gerakan yang berkelanjutan. Menjangkau lebih banyak anak, lebih banyak nagari, lebih banyak mimpi yang perlu dipantik.

Sebab dari tikar-tikar sederhana di bawah pohon beringin itu, kita belajar satu hal: bahwa perubahan besar seringkali berawal dari ruang kecil—dari buku yang dibaca, dari tawa anak-anak, dari komunitas yang memilih untuk peduli.

Dan mungkin, dari sana pula akan lahir generasi yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu berpikir, mencipta, dan menjaga budayanya sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar