Akar, Kaleng dan Mentari
Tumbuh subur diusia muda
Beriming-iming melawan penguasa
Kebohongan menjajaki dunia
Pertempuran kasak-kusuk remaja
Perempuan di zaman milenial—nya
Bagaimanalah daya dia?
Menumbuhkan keadilan bangsa
Bertindak layaknya Juwairiyah binti Al Harits
Dan R.A Kartini dikenal harum namanya
Bisakah mengukir prestasi?
Partisipan nan diagungkan
Pohon-pohon kecil yang ‘kan subur
Tumbuh mengakar kuat
Pada kaleng yang memenjarakan tanah
Erat membenteng dua arena
Takkan jadi mekar membahana
Seperti cahaya mentari
Digapai seluruh dunia
Perempuan harapan negara
Kebangkitan bergantung padanya
Perempuan hebat melahirkan anak cerdas
Sudahkah menjadi baja?
Regenerasi masa depan
Didoa pengharapan
Membawa cahaya kebaikan
Padang, 24 maret 2019
Tonggak Kelelahan
Badai-badai teriakan
Menyuarakan keadilan
Perempuan pencetus kebaikan
Remaja—dewasa menjadi panutan
Ibu menata rumah keseriusan
Terengah napas mendisiplinkan
Kekuatan perdamaian
Menoleh kebaktian
Runtuhnya perlindungan
Perempuan muda dilecehkan
Di mana letak kesejahteraan?
Kebebasan
Perempuan tonggak kejayaan
Punah sudah harapan
Dihina
Direndahkan
Lelah mencapai tujuan kehidupan
Merdeka di kegelapan
Padang, 24 April 2019
Lautan Hati
Kini kembali aku bersamamu
Aku yang kecil, kau yang juga kecil
Tapi kau begitu besar dan luas bagiku
Pun bagi-Nya, kau adalah yang terluas
Bila orang ke pantai, mereka berjumpa denganmu. Namun, tidak denganku.
Aku cukup di sini saja. Kau ada di sisiku
Keindahan yang kau beri, banyak insan bersyukur pada Sang pemberi
Kau ciptaan Ilahi
Kau adalah kunci ketenangan hidup ini
Durian Tibarau, 2 November 2023
Kidung Rindu
Oleh: Putri Ningsih dan Ida Almira
Aku di rimbunan asa
Mengeja sepi di kesyahduan malam
Desir ombak samudra bercengkerama bersama purnama
Tersenyum padaku nan gundah gulana
Gulita semakin kelam, jam dinding menyapa, saat pungguk merindukan bulan kita terjaga
Kita saling merelakan
Namun pengkhianatan selalu hadir
Saat fajar menyingsing entah ke mana hati berlabuh
Netizen kepoh, penasaran menghunjam sanubari
Diary masih setia menunggu
Belaian lembut sang raja dan ratu
Meski gawai sering dianggap lebih tampan untuk bercinta
Semua kisah mengatur alur, ingatanku padamu
Angin malam mengelus kulit bak pualam, seakan kau ada di sini
Aku dan kau, dia dan lainnya, kita terpisah jarak dan waktu
Mengukir jejak belenggu kalbu
Sesaat mata terpejam, kutitip salam rindu padamu lewat angin lalu
Sumatera, 21 November 2024
Setelah Bulan Juni
Mei telah berlalu,
dan kini Juni menyapa.
Setelah bulan Juni,
kita kembali memasuki lembar waktu yang baru,
bulan tempat kita menata arah hidup.
Setelah bulan Juni,
ada perjalanan yang telah dilalui,
ada jejak yang patut dievaluasi;
sejauh mana kaki mampu berdiri,
seberapa dekat langkah dengan daftar mimpi.
Juni,
bulan yang konon selalu menghadirkan hujan
dalam sajak penyair ternama.
Hujan rindu yang menghujam jiwa,
mengajarkan hati untuk tetap tabah
pada setiap rencana yang tertunda.
Pada jejak Arunika Nyalira Amarta Akasa,
pada harapan Svastika Amerta Baswara,
aku terus melangkah,
menyusuri cahaya-Nya,
menuju masa yang lebih bermakna.
Durian Tibarau, 1 Juni 2026
-------------------------------------------
DARI REDAKSI
Saya membaca kelima puisi ini sebagai rangkaian yang menarik karena memperlihatkan perkembangan tema dan kematangan penulisan dari waktu ke waktu.
Kesan Umum
Puisi-puisi Putri Ningsih banyak bertumpu pada tiga poros utama:
1. Perempuan dan perjuangan sosial (Akar, Kaleng dan Mentari; Tonggak Kelelahan).
2. Kedekatan dengan alam sebagai ruang perenungan (Lautan Hati).
3. Rindu, waktu, dan perjalanan batin (Kidung Rindu; Setelah Bulan Juni).
Terlihat adanya kecenderungan menulis secara reflektif, dengan bahasa yang sederhana namun berusaha menjangkau gagasan-gagasan besar: keadilan, harapan, kebebasan, cinta, dan masa depan.
1. Akar, Kaleng dan Mentari
Puisi ini berbicara tentang perempuan sebagai kekuatan perubahan.
Tokoh-tokoh seperti Juwairiyah binti Al-Harits dan Raden Ajeng Kartini dihadirkan sebagai simbol keteladanan.
Bagian yang paling kuat adalah metafora:
Pohon-pohon
kecil yang 'kan subur
Tumbuh mengakar kuat
Pada kaleng yang memenjarakan tanah
Kaleng di sini dapat dibaca sebagai simbol keterbatasan sosial, budaya, atau bahkan cara berpikir yang membatasi perempuan. Sementara mentari menjadi lambang harapan dan pencapaian yang lebih luas.
Catatan pengembangan: metafora "akar–kaleng–mentari" sebenarnya sangat potensial. Jika dikembangkan lebih dalam, puisi ini bisa menjadi karya yang lebih simbolik dan tidak terlalu bergantung pada penjelasan langsung.
2. Tonggak Kelelahan
Puisi ini lebih gelap dan lebih kritis.
Ada kegelisahan terhadap kenyataan bahwa perempuan masih mengalami pelecehan dan ketidakadilan.
Larik:
Di mana letak kesejahteraan?
menjadi titik tanya yang kuat karena muncul setelah gambaran tentang perempuan yang berjuang dan mendisiplinkan kehidupan.
Puisi ini terasa seperti suara protes yang lahir dari kelelahan kolektif.
Kelebihan: emosinya terasa jujur.
Potensi pengembangan: memperbanyak citraan konkret agar pembaca tidak hanya memahami pesan, tetapi juga merasakan situasi yang ingin digambarkan.
3. Lautan Hati
Ini puisi yang paling sederhana sekaligus paling tenang.
Laut dipersonifikasikan sebagai sahabat dan ruang spiritual.
Larik:
Kau adalah kunci ketenangan hidup ini
menunjukkan hubungan batin antara penyair dan alam.
Nuansanya mengingatkan pada puisi-puisi kontemplatif yang menjadikan alam sebagai jalan untuk mendekat kepada Sang Pencipta.
4. Kidung Rindu
Puisi ini memiliki warna yang berbeda karena ditulis bersama Ida Almira.
Yang menarik adalah pertemuan antara unsur klasik dan modern:
· purnama,
· pungguk merindukan bulan,
· diary,
berdampingan dengan:
· netizen,
· gawai.
Perpaduan ini menciptakan suasana rindu yang hidup di zaman digital.
Larik:
Meski gawai sering dianggap lebih tampan untuk bercinta
merupakan bagian yang paling segar karena menghadirkan kritik halus terhadap hubungan manusia yang semakin bergantung pada teknologi.
5. Setelah Bulan Juni
Menurut saya, ini adalah puisi yang paling matang dalam kumpulan ini.
Ada alur refleksi yang lebih tertata:
· waktu berjalan,
· evaluasi diri,
· pengharapan,
· perjalanan menuju masa depan.
Referensi terhadap "bulan Juni" mengingatkan pembaca pada tradisi sastra Indonesia yang sering menghubungkan Juni dengan hujan, rindu, dan perenungan.
Bagian:
ada
perjalanan yang telah dilalui,
ada jejak yang patut dievaluasi
menunjukkan kedewasaan berpikir yang lebih kuat dibanding karya-karya awal.
Kesimpulan
Jika kelima puisi ini dibaca sebagai satu perjalanan kreatif, terlihat perkembangan yang jelas:
2019 → dominan
tema perjuangan perempuan dan kritik sosial.
2023 → memasuki fase kontemplasi melalui alam.
2024 → eksplorasi tema rindu dan relasi manusia di era digital.
2026 → refleksi waktu, evaluasi diri, dan harapan masa depan.
Kekuatan utama Putri Ningsih terletak pada kejujuran perasaan dan keberanian mengangkat tema perempuan, harapan, serta kemanusiaan. Langkah berikutnya untuk memperkuat kualitas puisi adalah memperkaya metafora, citraan, dan permainan bunyi sehingga pesan tidak hanya dipahami, tetapi juga lebih lama tinggal dalam ingatan pembaca.
- Denni Meilizon

0 Komentar