Denni Meilizon, dari Koran di Dinding Rumah Nenek hingga Menggerakkan Literasi


Ketika namanya dipanggil sebagai penerima Penghargaan Insan Literasi Kabupaten Pasaman Barat 2026, Denni Meilizon justru sedang tidak berada di ruang acara. Ia sedang menjalankan tugas pelayanan masyarakat di Silaping, kampung tempat perjalanan panjangnya bersama buku bermula.

Ketika nama Denni Meilizon dipanggil sebagai salah seorang penerima Penghargaan Insan Literasi Kabupaten Pasaman Barat 2026, lelaki kelahiran Silaping itu tidak berada di ruangan.

Jurnaini, istrinya, yang maju mewakili.

Piagam penghargaan yang ditandatangani Bupati Pasaman Barat dan disiapkan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pasaman Barat itu diserahkan dalam rangkaian Festival Literasi 2026 oleh Sifrowati, Bunda Literasi Pasaman Barat.

Pada saat yang sama, Denni sedang menjalankan tugas dinas pelayanan masyarakat ke Silaping.

Kebetulan itu seperti membentuk sebuah lingkaran.

Sementara penghargaan atas perjalanan literasinya diterima sang istri, Denni justru kembali ke kampung tempat lebih dari empat puluh tahun sebelumnya ia mulai mengenal buku, cerita, dan rasa ingin tahu.

Silaping adalah titik awal itu.

Denni lahir di sana pada 6 Mei 1983. Riwayat formalnya mencatat ia menyelesaikan sekolah dasar di SD Negeri 33 Silaping pada 1995, sebelum melanjutkan pendidikan ke SLTP Negeri 2 Sungai Beremas dan kemudian SMU Negeri 1 Kubung.

Namun cerita tentang Denni dan bacaan bermula jauh sebelum ijazah-ijazah itu diterbitkan.

Anak yang Memburu Bacaan

Semasa kecil, Denni tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya gemar membaca. Ibunya senang bercerita.

Dari keduanya, tanpa disadari, ia menerima dua warisan yang kelak terus berjalan bersamanya: bacaan dan cerita.

Setiap Kamis, ketika pasar kampung ramai, Denni kecil mendapat uang jajan sekitar Rp250. Uang itu sebenarnya dapat digunakan membeli makanan. Tetapi komik dan novel silat sering lebih menarik perhatiannya.

Kalau tidak mampu membeli, ia menyewa.

Ada tempat penyewaan komik. Ada perpustakaan sekolah. Ada lemari berisi buku di masjid. Ada pula teman-teman yang saling mempertukarkan komik, majalah, novel silat, dan bacaan anak.

Koran membutuhkan kesabaran yang lain.

Pada masa itu, surat kabar dari Padang menempuh perjalanan panjang sebelum sampai di kampung. Satu eksemplar tersedia di warung kopi dekat tempat penjualan tiket bus. Orang-orang dewasa lebih dahulu membacanya.

Denni menunggu giliran.

Bukan hanya warung kopi yang menjadi tempat membaca. Rumah kakek dan neneknya menyediakan pengalaman yang lebih unik. Bagian dalam rumah papan itu dilapisi lembaran-lembaran koran lama.

Bagi orang lain, mungkin itu hanya pelapis dinding.

Bagi seorang anak yang haus bacaan, setiap dinding berubah menjadi halaman yang dapat dijelajahi.

Ia menemukan berita, cerita pendek, cerita bersambung, humor, tulisan berbahasa daerah, dan nama-nama penulis.

Bertahun-tahun kemudian, sebagian nama yang dahulu ditemuinya di lembaran koran tidak lagi sekadar nama. Ada yang kemudian dikenalnya sebagai teman, guru, maupun orang-orang yang ditemuinya dalam perjalanan kesusastraan.

Salak, Kersen, dan Hukuman Menulis

Masa kecil Denni tentu bukan hanya buku.

Di belakang sekolah terdapat kebun salak. Bersama teman-temannya ia pernah mengambil buah yang sudah masak dan berlari ketika ulah mereka diketahui.

Di halaman sekolah tumbuh pohon kersen. Anak-anak membuat semacam sarang di cabangnya. Imajinasi membuat mereka dapat berubah menjadi burung, rusa, atau apa pun yang mereka inginkan.

Ada pula kenakalan yang berakhir di meja guru.

Menjelang akhir masa sekolah dasar, Denni dan beberapa teman tertangkap guru olahraga ketika mencoba merokok di sebuah kedai.

Hukuman kemudian datang.

Selama beberapa hari mereka kehilangan waktu istirahat. Mereka diminta menulis tegak bersambung kalimat mengenai bahaya rokok, tar, dan nikotin.

Ada ironi yang baru terlihat setelah puluhan tahun berlalu.

Anak yang pernah dihukum dengan menulis itu kemudian menghabiskan sebagian besar kehidupan dewasanya bersama kata-kata.

Jalan yang Tidak Selalu Lurus

Selepas SMA pada 2001, perjalanan pendidikan Denni tidak bergerak dalam satu garis lurus.

Portofolionya mencatat masa belajar di Universitas Sumatera Utara pada 2001-2003, Universitas Eka Sakti Padang pada 2004-2006, kemudian STIE KBP Padang pada 2007-2009. Jauh setelah itu ia kembali ke bangku kuliah melalui Universitas Terbuka dan menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 2025.

Di antara perjalanan tersebut, kehidupan dewasa datang dengan tuntutannya sendiri.

Pada 2007 ia menikah dengan Jurnaini. Rumah tangga itu kemudian dikaruniai tiga anak, Alya, Lintang, dan Nala.

Tahun 2010 menjadi titik lain. Denni memasuki dunia pegawai negeri sekaligus semakin serius menekuni kepenulisan.

Pekerjaan birokrasi memberinya satu dunia. Sastra membuka dunia lainnya.

Ia menulis puisi, cerita pendek, esai, kemudian prosa panjang. Naskah-naskah mulai dimuat media. Buku demi buku lahir.

Ketika Pengakuan Mulai Datang

Pengakuan terhadap kerja kepenulisannya mulai terasa pada 2016.

Pada Agustus tahun itu, Denni menerima Anugerah Literasi Minangkabau 2016 untuk kategori penulis.

Beberapa bulan kemudian, namanya kembali muncul bersama 19 penulis Sumatera Barat dalam Penghargaan Apresiasi Penulis Sumatera Barat 2016.

Karya yang mendapat apresiasi ketika itu berjudul Otobiografi Pamong. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Irwan Prayitno.

Jejak Otobiografi Pamong menjadi menarik dalam perjalanan kreatif Denni karena naskah tersebut kemudian berhubungan dengan karya yang dikenal sebagai Pamong.

Riwayat penerbitan final novel itu masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Terdapat informasi bahwa Pamong kemudian diterbitkan melalui program Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat bersama karya sejumlah penulis Sumatera Barat lainnya sekitar 2017 atau 2018.

Namun satu hal sudah terlihat dari jejak 2016 tersebut: prosa panjang telah menjadi bagian dari dunia kreatif Denni sebelum aktivitas gerakan literasinya berkembang seluas sekarang.

Dan justru pada periode yang hampir bersamaan, kehidupan kepenulisannya mulai mengalami perubahan lain.

Ia tidak lagi hanya menulis.

Ia mulai semakin banyak membaca, memilih, menyunting, dan menyediakan tempat bagi tulisan orang lain.

Dari Penulis ke Meja Redaksi

Portofolio Denni mencatat pengalaman sebagai redaktur sastra, seni, dan budaya pada 2016-2019.

Dalam kerja redaksi Harian Haluan, ia ikut mengembangkan ruang kebudayaan yang terdiri dari beberapa halaman dengan karakter berbeda. Ada tempat untuk reportase seni dan budaya, cerpen, esai bahasa, puisi, sejarah, resensi buku, cerita anak hingga ulasan film.

Posisi Denni perlahan berubah.

Dahulu ia berharap tulisannya diterima redaksi.

Kini ia berada pada posisi membaca tulisan orang lain, menimbang kelayakannya, menyuntingnya, lalu menyediakan ruang agar karya itu bertemu pembaca.

Pengalaman tersebut tampaknya menjadi salah satu jembatan penting dalam perjalanan berikutnya.

Sebab setelah mengenal dunia penerbitan dari sisi penulis dan redaktur, perhatian Denni semakin bergerak kepada pertanyaan lain: bagaimana membuat lebih banyak orang membaca dan menulis?

Pulang dan Membuat Ruang

Jawabannya mulai mendapatkan bentuk di Pasaman Barat.

Denni kemudian aktif bersama Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat. Dokumen riwayat hidupnya mencatat dirinya sebagai ketua forum tersebut sejak 2018, sementara biodata pada salah satu bukunya menyebut Denni sebagai salah seorang penggagasnya.

Fakta terakhir penting.

Gerakan literasi itu bukan cerita tentang seorang Denni seorang diri. Ada orang-orang lain yang ikut memikirkan, membangun, mengorganisasi, dan mempertahankannya.

Dari komunitas tersebut, kegiatan berkembang ke sekolah, kelas menulis, pelatihan guru, diskusi buku, lomba, penerbitan karya pelajar, hingga pendampingan komunitas.

Salah satu perubahan penting terlihat ketika karya anak-anak mulai diterbitkan.

Jika dahulu Denni mengejar kesempatan agar karyanya sendiri dapat dibaca, kini ia berada dalam posisi membantu anak-anak melihat nama dan tulisan mereka hadir dalam sebuah buku.

Di Kinali, dalam sebuah kegiatan literasi bersama anak-anak yang hidup di lingkungan perkebunan sawit, pernah terjadi peristiwa sederhana.

Acara hampir selesai ketika sejumlah anak meminta membaca puisi.

Rombongan ternyata tidak membawa buku puisi.

Puisi kemudian dicari melalui telepon genggam. Tujuh anak berdiri dan membacakannya.

Adegan sederhana itu seperti mempertemukan dua masa.

Dahulu ada seorang anak di Silaping yang harus mencari-cari sesuatu untuk dibaca.

Puluhan tahun kemudian, anak itu telah menjadi orang dewasa yang datang bersama kawan-kawannya untuk menciptakan kesempatan membaca bagi anak-anak lain.

Ketika Literasi Bertemu Kebudayaan

Perjalanan itu kemudian tidak berhenti pada buku.

Denni mulai masuk semakin dalam ke persoalan kebudayaan lokal.

Ia berbicara tentang permainan tradisional anak Pasaman Barat, sesuatu yang sebenarnya mempunyai hubungan dengan pengalaman masa kecilnya sendiri. Ia juga terlibat dalam kegiatan penulisan berbasis kebudayaan lokal, diskusi sastra, cerita rakyat, dan berbagai aktivitas yang berusaha mendokumentasikan ingatan masyarakat.

Jejak perhatian terhadap kampung sebenarnya telah lama muncul dalam karya-karyanya.

Silaping, Batahan, sungai, laut, ibu, ayah, anak, rumah, rantau, dan kepulangan berulang dalam puisi-puisinya.

Dalam pengantar Libur Orang Laut, Denni bahkan menempatkan kehidupan sebagai ayah dan kehidupan sebagai penyair sebagai dua hal yang sulit dipisahkan. Buku tersebut dipersembahkannya kepada ketiga anak serta Jurnaini, pendamping hidupnya.

Artinya, jauh sebelum istilah penguatan budaya lokal sering muncul dalam kegiatan komunitasnya, kampung dan keluarga telah hidup di dalam karya.

Dari Literasi ke Pengabdian

Perjalanan Denni kemudian berkembang ke ruang yang lebih luas.

Ia aktif di lingkungan Muhammadiyah Pasaman Barat. Aktivitasnya antara lain bersentuhan dengan kaderisasi generasi muda di Amal Usaha Muhammadiyah, serta kerja sosial melalui LAZISMU dan MDMC Muhammadiyah Pasaman Barat.

Dalam aktivitas kemanusiaan, kerja itu juga berlangsung bersama jaringan lain. Salah satunya melalui sinergi dengan lembaga kemanusiaan lokal seperti MRPB Peduli.

Di sini pola perjalanan Denni kembali terlihat.

Di dunia sastra, ia tidak hanya menulis tetapi mengorganisasi penulis.

Di dunia literasi, ia tidak hanya membaca tetapi membangun ruang baca.

Di lingkungan organisasi, ia tidak hanya menjadi anggota tetapi ikut melakukan kaderisasi.

Di ruang kemanusiaan, pekerjaan tidak berhenti pada institusi sendiri tetapi memerlukan kolaborasi dengan pihak lain.

Barangkali karena itu kata "penggerak" lebih mudah menjelaskan aktivitas Denni dibandingkan sekadar daftar jabatan.

Kembali Menjadi Mahasiswa

Di tengah pekerjaan sebagai ASN, aktivitas literasi, organisasi, keluarga dan kepenulisan, Denni melakukan sesuatu yang tampak seperti perjalanan kembali.

Ia menjadi mahasiswa lagi.

Setelah perjalanan pendidikan formal yang panjang, ia menyelesaikan Sarjana Administrasi Publik melalui Universitas Terbuka pada 2025.

Setahun kemudian ia tercatat melanjutkan pendidikan magister Ilmu Administrasi Negara di Universitas Negeri Padang.

Ada sesuatu yang menarik di sana.

Gelar sarjana justru datang setelah Denni lebih dahulu menjadi suami, ayah, ASN, penyair, penulis buku, editor, redaktur, fasilitator, dan penggerak komunitas.

Pendidikan formal yang sempat berbelok-belok itu akhirnya menemukan jalannya kembali.

Piagam yang Diterima Sang Istri

Lalu datang September 2026.

Festival Literasi Pasaman Barat berlangsung.

Nama Denni Meilizon disebut sebagai salah seorang penerima Penghargaan Insan Literasi Kabupaten Pasaman Barat.

Tetapi yang berdiri menerima piagam adalah Jurnaini.

Ada sesuatu yang terasa tepat dari adegan itu.

Perempuan yang membersamai perjalanan rumah tangganya selama bertahun-tahun menerima penghargaan atas nama suaminya.

Sementara pada hari yang sama Denni berada di Silaping.

Tempat kelahirannya.

Kampung tempat dahulu ia mencari bacaan di perpustakaan sekolah, kios komik, lemari masjid, warung kopi, rumah teman, sampai lembaran koran tua yang menempel di dinding rumah nenek.

Lebih dari empat puluh tahun kemudian, dunia telah berubah.

Denni tidak lagi menjadi anak yang menunggu orang dewasa selesai membaca koran.

Ia telah menulis buku, menyunting tulisan, mendampingi anak-anak, membangun komunitas, bekerja bersama taman baca, melakukan kaderisasi, masuk dalam kegiatan kebudayaan, serta berjumpa dengan kerja sosial dan kemanusiaan.

Tetapi sebuah penghargaan tidak membuat perjalanan itu selesai.

Masih ada anak yang membutuhkan buku.

Masih ada cerita kampung yang belum dituliskan.

Masih ada penulis muda yang membutuhkan ruang untuk tumbuh.

Masih ada taman baca yang harus dikuatkan.

Masih ada kader yang harus dibina.

Dan masih ada masyarakat yang dalam situasi tertentu membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja bersama.

Dalam portofolionya, Denni pernah menuliskan sebuah keyakinan sederhana:

“Saya percaya, setiap kata punya potensi.”

Perjalanan hidupnya membuat kalimat itu mendapatkan arti yang lebih luas.

Kata tidak hanya ditulis.

Kata dapat membuka ruang.

Ruang dapat mempertemukan manusia.

Dan manusia yang bertemu dapat memulai sebuah gerakan.

Mungkin karena itu, di antara sekian banyak identitas yang melekat kepadanya, dua kata sederhana terasa paling dekat dengan perjalanan Denni Meilizon: terus bergerak.[]
/Red

Posting Komentar

0 Komentar