TBM Pondok Buku Olalaa Gelar Lokakarya Menulis Puisi Berbasis Budaya Lokal, Wujudkan Komitmen Banpem Komlit 2026

 

 

Ujung Gading, SYARIKATMU — Setelah resmi ditetapkan sebagai salah satu penerima Bantuan Pemerintah (Banpem) Fasilitasi Komunitas Literasi Tahun 2026 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, TBM Pondok Buku Olalaa mulai merealisasikan program unggulannya melalui Lokakarya Menulis Puisi Berbasis Budaya Lokal Kabupaten Pasaman Barat yang akan dilaksanakan pada Sabtu, 15 Agustus 2026, di Pendopo Yayasan Al-Mukhlisin, Ujung Gading. Program ini merupakan bagian dari upaya memperkuat gerakan literasi berbasis budaya di tengah masyarakat.

Kegiatan tersebut menjadi implementasi nyata dari komitmen TBM Pondok Buku Olalaa sebagaimana disampaikan sejak diumumkannya sebagai penerima Banpem Komlit 2026. Sebelumnya, TBM Pondok Buku Olalaa telah menyatakan akan mengembangkan berbagai aktivitas literasi yang berpijak pada kekayaan budaya lokal Pasaman Barat, sehingga literasi tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas membaca dan menulis, tetapi juga sebagai ikhtiar merawat identitas, tradisi, dan nilai-nilai budaya masyarakat.

Founder TBM Pondok Buku Olalaa, Mira, mengatakan bahwa lokakarya ini dirancang untuk memberikan ruang belajar sekaligus ruang kreatif bagi generasi muda agar mampu mengolah kekayaan budaya daerah menjadi karya sastra yang bernilai.

"Pasaman Barat memiliki begitu banyak cerita, tradisi, bahasa, lanskap alam, hingga nilai-nilai lokal yang layak diabadikan melalui puisi. Kami berharap peserta tidak hanya belajar teknik menulis, tetapi juga memiliki kesadaran bahwa sastra dapat menjadi media pelestarian budaya," ujar Mira kepada media ini. 

Lokakarya menghadirkan dua narasumber yang aktif dalam pengembangan literasi dan kepenulisan di Sumatera Barat, yakni Denni Meilizon, penyair dan pegiat literasi sekaligus Ketua Forum Pegiat Literasi (FPL) Pasaman Barat, serta Muhammad Subhan, penulis nasional, pegiat literasi, dan Founder Sekolah Menulis Elipsis.

Dalam sesi pelatihan, peserta akan memperoleh materi mengenai dasar-dasar penulisan puisi, eksplorasi budaya lokal sebagai sumber inspirasi, teknik membangun diksi dan citraan, hingga praktik menulis dan apresiasi karya. Pendekatan yang digunakan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga partisipatif sehingga setiap peserta memiliki kesempatan menghasilkan karya puisi yang berangkat dari pengalaman dan lingkungan budayanya sendiri.

Kegiatan ini terbuka bagi pelajar SMP dan SMA sederajat, guru, maupun masyarakat umum di Kabupaten Pasaman Barat. Peserta akan memperoleh seminar kit, sertifikat, konsumsi, serta bantuan transport. Panitia membatasi jumlah peserta sebanyak 60 orang agar proses pembelajaran berlangsung lebih efektif.
 

Menurut panitia, lokakarya tersebut merupakan salah satu rangkaian program yang telah dirancang melalui skema Banpem Komlit 2026. Melalui program ini, TBM Pondok Buku Olalaa ingin membangun ekosistem literasi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dengan menjadikan budaya lokal sebagai sumber belajar sekaligus sumber kreativitas. Hal ini sejalan dengan tujuan pemerintah dalam memperkuat pelestarian bahasa dan sastra daerah melalui pemberdayaan komunitas literasi di berbagai wilayah Indonesia.

Sebagai salah satu dari enam komunitas literasi asal Sumatera Barat yang memperoleh Banpem Komlit Tahun 2026, kehadiran program-program seperti lokakarya ini diharapkan mampu memperluas ruang berkarya bagi masyarakat sekaligus memperkuat jejaring literasi di daerah. Program bantuan tersebut juga menjadi bentuk pengakuan terhadap peran komunitas literasi sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun budaya baca, budaya tulis, dan pelestarian kebahasaan serta kesastraan berbasis masyarakat.

Melalui lokakarya ini, TBM Pondok Buku Olalaa berharap lahir karya-karya puisi yang tidak hanya memiliki kualitas estetik, tetapi juga merekam wajah Pasaman Barat dari sudut pandang masyarakatnya sendiri. Sebab, ketika budaya dituliskan, ia tidak hanya dikenang oleh generasi hari ini, melainkan juga diwariskan kepada generasi yang akan datang sebagai bagian dari identitas dan memori kolektif daerah.

Posting Komentar

0 Komentar