Oleh: Denni Meilizon
Ada pertanyaan yang jarang sekali kita ajukan dengan jujur: bagaimana sebenarnya mengukur keberhasilan gerakan literasi?
Selama ini, ukuran yang sering dipakai justru berkisar pada orang-orang yang menggerakkannya. Semakin sering seorang pegiat literasi diundang menjadi narasumber, moderator, dewan juri, atau pembicara dalam seminar, semakin dianggap berhasil pula gerakan yang ia jalankan. Akun media sosialnya ramai. Jadwalnya padat. Dokumentasi kegiatannya berlimpah. Dari luar, semuanya tampak bergerak.
Namun, benarkah itu ukuran keberhasilan?
Belum tentu.
Sebab gerakan literasi tidak pernah lahir untuk membesarkan nama pegiatnya. Gerakan literasi lahir untuk membesarkan masyarakat.
Di sinilah kita perlu membedakan antara popularitas aktor dan transformasi budaya. Keduanya sering berjalan beriringan, tetapi tidak selalu saling menghasilkan. Seorang pegiat bisa semakin terkenal, sementara masyarakat yang ia layani tetap memiliki kebiasaan membaca yang rendah. Acara literasi bisa semakin banyak, tetapi toko buku terus tutup. Seminar semakin megah, sementara perpustakaan sekolah tetap sepi. Festival literasi semakin meriah, tetapi ruang diskusi yang hidup justru semakin langka.
Jika demikian keadaannya, yang sedang tumbuh bukanlah budaya literasi, melainkan industri kegiatan literasi.
Padahal indikator keberhasilan sesungguhnya jauh lebih sederhana, meskipun jauh lebih sulit dicapai.
Keberhasilan gerakan literasi terlihat ketika masyarakat semakin akrab dengan buku. Ketika membaca tidak lagi menjadi aktivitas yang terasa asing. Ketika ruang-ruang publik menyediakan tempat bagi diskusi, bedah buku, kelas menulis, dan pertukaran gagasan tanpa harus menunggu proyek atau seremoni.
Gerakan literasi berhasil ketika perpustakaan keluarga mulai bermunculan di rumah-rumah. Ketika sekolah merasa malu jika tidak memiliki sudut baca yang hidup. Ketika kantor pemerintahan, balai desa, rumah ibadah, hingga warung kopi menyediakan ruang bagi pengetahuan, bukan hanya ruang untuk menunggu waktu.
Lebih jauh lagi, keberhasilan literasi tercermin pada kualitas percakapan masyarakat.
Perdebatan berlangsung dengan argumen, bukan dengan makian. Perbedaan diselesaikan melalui nalar, bukan dengan kebencian. Orang tidak mudah percaya pada kabar bohong karena memiliki kebiasaan memeriksa sumber informasi. Kritik disampaikan dengan data, bukan dengan prasangka. Kesepakatan dibangun melalui dialog, bukan melalui tekanan.
Masyarakat yang literat bukanlah masyarakat yang mengetahui segala hal. Mereka adalah masyarakat yang memiliki kebiasaan belajar sebelum menyimpulkan.
Dalam masyarakat seperti itu, negara pun tidak perlu terlalu sibuk mengatur hal-hal yang seharusnya menjadi kesadaran bersama.
Semakin tinggi tingkat literasi suatu bangsa, semakin besar kemampuan warganya mengendalikan diri melalui akal sehat. Pemerintah tidak lagi dipaksa mengeluarkan larangan demi larangan untuk mengatasi persoalan yang sesungguhnya dapat dicegah oleh kedewasaan berpikir. Budaya membaca melahirkan budaya berpikir. Budaya berpikir melahirkan tanggung jawab sosial.
Karena itu, keberhasilan gerakan literasi pada akhirnya bukan sekadar menghasilkan lebih banyak pembaca buku, melainkan membentuk warga negara yang mampu menggunakan pengetahuan untuk mengatur dirinya sendiri.
Di sinilah paradoks itu muncul.
Ada gerakan literasi yang semakin sibuk menyelenggarakan acara, tetapi semakin sedikit menghasilkan pembaca. Ada komunitas yang semakin terkenal, tetapi lingkungan sekitarnya tetap miskin budaya baca. Ada tokoh yang semakin dielu-elukan, tetapi perubahan sosial yang dijanjikan tak kunjung terlihat.
Ketika kondisi seperti ini berlangsung terus-menerus, kita patut bertanya: apakah gerakannya masih berjalan di jalur yang benar?
Sebab setiap gerakan sosial memiliki risiko mengalami pergeseran orientasi. Mula-mula berjuang untuk perubahan, kemudian perlahan berubah menjadi panggung pengakuan. Energi lebih banyak dihabiskan untuk membangun citra daripada membangun dampak. Ukuran keberhasilan bergeser dari bertambahnya pembaca menjadi bertambahnya undangan. Dari meningkatnya kualitas masyarakat menjadi meningkatnya popularitas penggeraknya.
Jika orientasi ini dibiarkan, gerakan literasi kehilangan rohnya.
Yang lahir bukan ekosistem pengetahuan, melainkan ekosistem ketergantungan kepada tokoh-tokoh tertentu. Setiap kegiatan harus menghadirkan nama yang sama. Setiap diskusi bergantung pada figur yang sama. Setiap inisiatif menunggu orang yang sama.
Padahal sebuah gerakan yang sehat justru bekerja ke arah sebaliknya.
Ia menciptakan masyarakat yang mampu bergerak sendiri. Ia melahirkan pembaca baru, penulis baru, pengelola perpustakaan baru, fasilitator baru, dan komunitas-komunitas baru yang tidak lagi bergantung pada satu atau dua nama.
Dalam teori pembangunan, keberhasilan sebuah institusi sering kali diukur dari kemampuannya menciptakan sistem yang tetap berjalan ketika pendirinya tidak lagi hadir. Prinsip yang sama berlaku bagi gerakan literasi.
Semakin matang sebuah gerakan, semakin kecil ketergantungannya pada individu.
Maka, mungkin sudah saatnya kita mengubah cara mengukur keberhasilan.
Jangan lagi bertanya berapa banyak seminar yang telah diselenggarakan.
Tanyakan berapa banyak keluarga yang mulai membeli buku.
Jangan hanya menghitung berapa kali seorang pegiat menjadi narasumber.
Hitung pula berapa banyak anak yang mulai menjadikan membaca sebagai kebiasaan.
Jangan sekadar mendokumentasikan panggung.
Dokumentasikan perubahan perilaku.
Sebab sejarah tidak pernah mengingat sebuah gerakan karena tokohnya sering berbicara. Sejarah mengingat sebuah gerakan karena masyarakatnya benar-benar berubah.
Pada akhirnya, gerakan literasi yang berhasil membuat para pegiatnya semakin tidak penting, karena masyarakat sudah mampu bergerak tanpa bergantung kepada siapa pun.
Sebaliknya, gerakan yang gagal justru melahirkan tokoh-tokoh yang semakin penting, sementara budaya membacanya tetap berjalan di tempat.
Dan ketika itu terjadi, yang perlu dipertanyakan bukan lagi semangat para pegiatnya, melainkan arah gerakannya. Mungkin gerakan itu tidak perlu dihentikan, tetapi sudah waktunya dikaji ulang secara jujur: apakah ia masih sedang membangun budaya literasi, atau tanpa sadar sedang membangun panggung bagi dirinya sendiri.[]
* Penulis, Ketua Komunita Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, Wakil Ketua PDM Pasbar, Redaksi.

0 Komentar