Tidak Salah Memberi Rakyat Makan


 Oleh: Denni Meilizon


Hari ini saya belajar satu hal yang aneh: rasa lega dan rasa cemas bisa hadir sekaligus.

Kabar tentang anak sulung saya yang lulus di perguruan tinggi negeri di Padang seharusnya cukup untuk menutup hari dengan syukur yang utuh. Bahkan lebih dari itu—ia juga telah lebih dulu diterima di perguruan tinggi swasta di Pulau Jawa, dan dengan keyakinannya sendiri, ia memilih jalan yang lebih jauh. Jalan petualangan. Jalan yang mungkin tidak sepenuhnya bisa kami jangkau sebagai orang tua, tapi cukup kami percayai.

Saya dan ibunya tidak banyak menahan. Kami tahu, ada usia di mana anak tidak lagi butuh diarahkan, tapi cukup ditemani dari jauh. Dan hari ini, saya merasa satu fase selesai: urusan “ke mana anak akan melangkah” tidak lagi menjadi beban.

Namun justru di titik itulah, pikiran saya bergerak ke arah lain—ke sesuatu yang lebih besar, lebih kabur, dan lebih sulit dikendalikan: masa depan negeri ini.

Beberapa waktu lalu saya menyaksikan konferensi pers para menteri. Sebuah pernyataan tentang arah 
anggaran negara—tentang bagaimana porsi besar dialokasikan untuk memastikan rakyat bisa makan. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan, dalam banyak hal, itu adalah kewajiban paling dasar sebuah negara.

Tapi ada sesuatu yang terasa janggal.

Bukan pada kalimatnya.
Bukan pada datanya.

Melainkan pada cara ia diucapkan.
Suara yang sedikit merendah.
Tatapan yang jatuh sesaat.
Dan jeda yang tidak sepenuhnya kosong.

Di sana, saya merasa ada sesuatu yang tidak diucapkan.

Kemungkinan besar, yang saya tangkap bukan hanya gerakan tubuhnya, tetapi juga konteks yang melingkupinya. Saya merasakan ada ketegangan antara ideal dan realitas—antara apa yang seharusnya dibangun (jiwa, kualitas manusia, masa depan jangka panjang) dan apa yang harus segera dipenuhi (kebutuhan dasar, tekanan politik, ekspektasi publik).

Saya paham, kebijakan yang berfokus pada “memberi makan” rakyat tidaklah salah. Bahkan dalam banyak situasi, itu menjadi sangat penting. Namun kegelisahan saya muncul ketika melihat potensi ketimpangan: saat negara terlalu sibuk memastikan perut kenyang, tetapi perlahan melupakan pentingnya menumbuhkan pikiran yang merdeka dan jiwa yang tangguh.

Saya tidak ingin menafsirkan terlalu jauh. Barangkali itu hanya kelelahan. Barangkali itu hanya beban teknis yang terlalu berat. Tapi sebagai orang yang sudah cukup lama hidup, saya tahu bahwa tubuh 
seringkali lebih jujur daripada kata-kata.

Dan dari situlah kegelisahan itu tumbuh.

Apakah kita sedang membangun generasi yang cukup hanya untuk bertahan hidup?
Atau generasi yang benar-benar disiapkan untuk memahami hidup?

Memberi makan adalah urusan hari ini.
Membangun jiwa adalah urusan masa depan.
Keduanya tidak bisa dipertukarkan.

Dan yang paling berbahaya adalah ketika kita merasa salah satunya sudah cukup.
Dan di situlah letak kegamangan saya tentang masa depan:
apakah anak-anak kita nanti hanya akan hidup “cukup”, atau benar-benar “berkembang”?

Meski begitu, ada satu hal yang coba saya pegang sebagai penyeimbang—bukan jawaban pasti, tapi setidaknya penenang:
saya sadar bahwa negara memang memiliki peran besar, tetapi bukan satu-satunya penentu masa depan anak saya.

Saya membayangkan anak saya—yang hari ini berani memilih jalannya sendiri, yang tumbuh dari ruang diskusi, yang mengenal dirinya lewat proses panjang sejak bangku kelas sepuluh. Ia adalah hasil dari perhatian kecil yang konsisten: obrolan, pertanyaan, arah yang tidak memaksa.

Lalu saya bertanya dalam hati:
apakah negara juga melakukan hal yang sama kepada jutaan anak lainnya?

Atau kita sedang terlalu sibuk memastikan mereka tidak lapar, sampai lupa mengajarkan mereka untuk berpikir?

Saya tidak punya jawaban pasti.
Dan mungkin memang tidak perlu.

Karena hari ini saya sadar, kecemasan itu bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Ia adalah tanda bahwa kita masih terhubung—bahwa kita tidak sepenuhnya menyerahkan masa depan pada sistem, tapi masih ingin ikut menjaganya, meski hanya lewat pikiran-pikiran kecil yang tidak terdengar.

Anak saya akan pergi ke Jawa. Ia akan bertemu dunia yang lebih luas, lebih kompleks, mungkin juga lebih membingungkan. Tapi satu hal yang saya pegang: ia tidak berangkat sebagai kertas kosong. Ia membawa bekal—cara berpikir, cara bertanya, dan keberanian untuk memilih.

Jika pun negara sedang goyah dalam menentukan prioritasnya, saya justru berharap anak-anak seperti dialah yang suatu saat mampu ikut mengoreksi arah itu.

Dan mungkin, di tengah segala ketidakpastian arah negara ini, itu adalah bentuk harapan yang paling masuk akal, bahwa kegelisahan yang saya rasakan ini bukanlah tanda pesimisme. Barangkali ini justru tanda bahwa saya masih peduli berapa banyak lagikah manusia Indonesia yang tetap mau berpikir menepis hipnotis massal yang terjadi hari ini?[]

Posting Komentar

0 Komentar