Ramadhan: Perintah, Warisan, dan Tujuan Ketakwaan


Oleh: Sulpandri, S.Sos.I

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi mengandung tiga pesan penting yang Allah tegaskan langsung dalam Al-Qur’an. 

Tiga poin ini menjadi fondasi pemahaman kita tentang makna puasa, sehingga Ramadhan benar-benar menjadi jalan menuju ketakwaan.

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Pertama, Perintah Puasa Ditujukan kepada Orang Beriman
Ayat perintah puasa dimulai dengan panggilan lembut: “Wahai orang-orang yang beriman.” Ini menunjukkan bahwa puasa adalah perintah kehormatan, bukan sekadar kewajiban biasa. Allah memanggil hamba-Nya dengan sebutan iman sebelum memberi tugas, seakan menegaskan bahwa puasa adalah bukti keimanan.

Panggilan “orang-orang yang beriman” menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar kewajiban fisik, melainkan tanda keimanan. Seolah Allah mengingatkan: jika iman masih hidup di dalam hati, maka perintah ini akan diterima dengan tunduk, sabar, dan penuh harap pahala.

Puasa sebagai Bukti Keimanan
Orang beriman memandang puasa bukan beban, tetapi kesempatan mendekat kepada Allah. Rasa lapar dan dahaga berubah menjadi ibadah, kesabaran menjadi pahala, dan waktu Ramadhan terasa lebih bernilai daripada bulan lainnya. Rasulullah Saw  bersabda : “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa ruh puasa adalah iman. Tanpa iman dan keikhlasan, puasa hanya menjadi aktivitas menahan makan dan minum. Namun dengan iman, puasa menjadi jalan ampunan dan peningkatan derajat di sisi Allah.

Kedua, Puasa Juga Diwajibkan kepada Umat Sebelum Kita
Sering kali Ramadhan dipahami hanya sebagai ibadah khas umat Islam. Padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa puasa bukan ibadah yang baru, melainkan syariat yang telah Allah tetapkan kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW. 

Hal ini menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah lintas zaman—sebuah tradisi ketaatan yang diwariskan dari generasi para nabi hingga umat hari ini.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa hampir setiap syariat kenabian mengenal bentuk puasa, meskipun tata caranya berbeda.

Syariat Puasa Nabi Musa, Bani Israil dikenal puasa pada hari tertentu sebagai bentuk taubat dan syukur. Bahkan ketika Nabi Musa diselamatkan dari Fir’aun, hari itu dijadikan hari puasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah.

Syariat Puasa Nabi Dawud, Kaum Nabi Dawud dikenal sebagai puasa terbaik: sehari berpuasa dan sehari berbuka. Pola ini menunjukkan bahwa puasa telah menjadi ibadah penting jauh sebelum datangnya Ramadhan.

Puasa dalam tradisi pengikut Nabi Isa, Sebagian ahli sejarah agama mencatat adanya praktik menahan makan pada waktu-waktu tertentu sebagai bentuk penyucian diri dan pendekatan spiritual kepada Tuhan.

Fakta-fakta ini menegaskan bahwa puasa adalah kebutuhan ruhani manusia sepanjang sejarah, bukan hanya kewajiban umat Islam.

Mengetahui bahwa puasa telah diwajibkan sejak umat-umat terdahulu membuat Ramadhan terasa lebih agung. Kita tidak sekadar menjalankan ritual tahunan, tetapi sedang melanjutkan jejak panjang para nabi dan orang-orang saleh dalam perjalanan menuju ketakwaan.

Ketiga, Tujuan utama adalah taqwa
pada akhir ayat disampaikan "agar kamu bertaqwa". ini menunjukkan bahwa inti dari seluruh ibadah puasa adalah lahirnya ketakwaan dalam diri seorang hamba. Tanpa taqwa, puasa hanya menjadi rutinitas fisik yang hampa makna
Taqwa berarti menjaga diri dari murka Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang bertakwa bukan hanya baik di hadapan manusia, tetapi juga merasa diawasi Allah dalam setiap keadaan—baik saat sendiri maupun di tengah keramaian.

Puasa melatih kejujuran batin. Saat tidak ada manusia yang melihat, seseorang tetap menahan diri karena sadar Allah Maha Melihat. Di sinilah puasa menjadi sekolah keikhlasan yang menumbuhkan taqwa. Dalam sabda Nabi Muhammad SAW menyampaikan “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Bukhari). 

Puasa menjadi sarana terbaik menuju taqwa karena ia adalah ibadah yang sangat tersembunyi. Hanya Allah yang benar-benar mengetahui kejujuran seseorang dalam berpuasa. Dari sinilah lahir keikhlasan dan pengendalian diri—dua fondasi utama ketakwaan.

Rasulullah ﷺ bersabda:l“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ampunan dosa merupakan tanda awal menuju taqwa, karena hati yang bersih lebih mudah dekat kepada Allah.
Ramadhan yang sukses bukan hanya ramai di awal dan hilang setelah Idulfitri.

Tanda seseorang meraih taqwa antara lain :
- Ibadah tetap terjaga setelah Ramadhan.
- Hati lebih takut berbuat dosa.
- Akhlak menjadi lebih sabar, lembut, dan pemaaf.
- Kecintaan kepada Al-Qur’an dan kebaikan semakin kuat.

Jika perubahan ini hadir, berarti Ramadhan telah benar-benar mengangkat derajat iman menuju taqwa.

Semoga kita termasuk hamba yang keluar dari Ramadhan dengan hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, dan derajat taqwa yang semakin tinggi. Aamiin.[]

*Penulis adalah Ketua PC Muhammadiyah Sungai Aur Pasaman Barat

Posting Komentar

0 Komentar