Di Balik Ledakan Musik AI: Sikap Tegas Ladofadoredo Menjaga Karya Musik Tetap Rasa Ciptaan Manusia

Padang, 18 Februari 2026 - SYARIKATMU 
Gelombang kecerdasan buatan (AI) tengah mengguncang industri musik. Lagu dapat diproduksi dalam hitungan menit. Lirik dirangkai oleh mesin, aransemen disusun algoritma, bahkan suara penyanyi dapat direkayasa tanpa kehadiran manusia di ruang rekaman. Di permukaan,  hal tersebut tampak sebagai revolusi efisiensi. Namun di baliknya, tersimpan pertanyaan besar: apa lagi yang tersisa dari kejujuran berkarya?

Di kediamannya di Padang, Sabtu (14/02), Muhammad Fadhli berbicara dengan nada tegas. Produser dari Label Musik Ladofadoredo itu menyebut fenomena musik instan berbasis AI sebagai tantangan etik paling serius dalam satu dekade terakhir industri kreatif.



“Musik lahir dari rasa dan pengalaman manusia. AI boleh membantu, tetapi tidak boleh menggantikan jiwanya sebagai karya manusia,” ujarnya.

Benteng Terakhir di Ruang Produksi

Ketika menjawab pertanyaan SYARIKATMU apakah menempatkan produser sebagai “benteng terakhir” dalam proses kreatif merupakan hal yang patut dilakukan, Fadhli menjelaskan bahwa produser bukan sekadar pengatur teknis rekaman, melainkan penjaga arah, nilai, dan integritas karya. 

Ia menyoroti tren penggunaan model vokal AI yang meniru atau menggantikan suara manusia. Praktik tersebut, kata dia, berisiko membohongi publik secara estetika.

“Menjaga unsur karya bermusik tetap mengedepankan sisi manusia, bukan robot, adalah hal mutlak.  Itu goal dalam industri ini. Lagu adalah saluran perasaan murni. Jika suara digantikan sepenuhnya oleh mesin, maka yang hilang bukan hanya karakter, tetapi kejujuran berkarya sebagai seniman,” tegasnya.

Sikap Ladofadoredo tidak setengah hati. Label tersebut menyatakan akan menolak materi lagu yang sepenuhnya dihasilkan aplikasi pengolah musik berbasis AI.

“Sebagai label profesional, kami tidak akan menerima karya yang seluruhnya kreasi AI. Teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti total manusia,” ujar Fadhli.

Ekosistem yang Terancam

Investigasi SYARIKATMU menunjukkan, satu lagu konvensional melibatkan rantai kerja panjang: pencipta lagu, arranger, session player, sound engineer, teknisi studio, hingga tim distribusi. Ketika seluruh proses itu dipadatkan menjadi satu sistem otomatis, profesi-profesi tersebut terancam terpinggirkan.




Tangkapan layar dari akun Facebook Muhammad Fadhli, poster promo lagu dan album di bawah label musik Ladofa Doredo. 

Jika produksi berbasis AI terus mendominasi, biaya produksi memang turun drastis. Namun persaingan menjadi timpang. Musisi yang berkarya melalui proses organik berhadapan dengan produk instan berbiaya rendah yang membanjiri pasar digital.

Persoalan lain muncul pada wilayah hak cipta. Sistem AI belajar dari data—termasuk karya musisi—yang sering kali tidak disertai persetujuan eksplisit. Di sinilah potensi konflik hukum dan moral mengintai.

Platform global seperti Spotify dan YouTube memang telah mencantumkan pedoman terkait konten berbasis AI, termasuk mekanisme deteksi dan peninjauan. Namun pengawasan di tingkat produksi tetap bergantung pada komitmen label dan produser.

Karya Tanpa “Goal”


Lebih jauh, Fadhli menilai musik yang sepenuhnya dihasilkan AI kerap kehilangan arah artistik.

“Dalam setiap lagu ada tujuan—pesan apa yang ingin disampaikan, emosi apa yang dibangun. Kalau semuanya diproduksi mesin, sulit merumuskan goal itu. Mesin bekerja dari pola data, bukan kesadaran sebab ia tidak memiliki kesadaran untuk apa karya seni itu dibuat sebenarnya,” ujarnya.

Tanpa visi, publikasi masif di platform digital berisiko menciptakan kebisingan tanpa makna. Lagu hadir, diputar, lalu tenggelam. Tidak membentuk identitas, tidak meninggalkan jejak emosional. Tidak membesarkan siapapun. Ruangnya jadi nihil. 


Tercatat hingga awal tahun 2026 ini, Ladofadoredo sendiri telah merilis lebih dari 2.000 lagu di berbagai platform digital. Produktivitas tinggi itu, menurut Fadhli, justru menjadi alasan untuk semakin menjaga kualitas dan integritas.

“Kuantitas tidak boleh mengorbankan nilai. Karya yang bertahan adalah karya yang punya ruh,” katanya.

Pertaruhan Moral Industri

Fenomena musik AI bukan sekadar isu teknologi. Ia telah menjadi pertaruhan moral bagi industri kreatif. Apakah musik akan tetap menjadi ekspresi cipta, rasa, dan karsa manusia? Ataukah berubah menjadi produk algoritmik yang mengejar klik dan algoritma semata?

Sikap tegas seperti yang diambil Ladofa Doredo menjadi penanda bahwa perdebatan ini belum selesai. Industri musik masih memiliki pilihan: menjadikan AI sebagai asisten, atau membiarkannya menjadi pengganti pengisi ruang harmonis kemanusiaan kita. 

Bagi Fadhli, garis batasnya jelas.

“Teknologi akan terus maju. Tapi kejujuran dalam berkarya harus tetap menjadi fondasi. Kalau itu hilang, musik hanya tinggal suara—tanpa jiwa dan tanpa tujuan apa-apa,” pungkasnya./DM



Posting Komentar

0 Komentar