Luhak Nan Duo, 24 Januari 2026 | SYARIKATMU —
Bedah buku novel LEIDEN 2020–1920 karya Hasbunallah Haris berlangsung dalam kegiatan Kunjungan Gerakan Literasi Sekolah bertajuk Kampanye Gerakan Gemar Membaca di SMA Negeri 1 Luhak Nan Duo, Sabtu (24/1/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Forum Pegiat Literasi (FPL) Pasaman Barat melalui PROGRAM SELASIH PROJECT Sub APRESIASI SASTRA dengan SMA Negeri 1 Luhak Nan Duo.
Peserta yang terdiri dari siswa pengurus OSIS, para guru, serta anggota komunitas FPL Pasaman Barat mengikuti kegiatan dengan antusias. Sejak awal hingga akhir acara, peserta tampak aktif menyimak pemaparan narasumber serta terlibat dalam sesi diskusi, permainan dan tanya jawab.
Kegiatan dibuka dengan pengantar oleh Kepala SMA Negeri 1 Luhak Nan Duo, Syafruddin S.Pd, yang menekankan pentingnya penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah sebagai upaya menumbuhkan karakter kritis, kreatif, dan berwawasan luas pada peserta didik.
Bedah buku menghadirkan narasumber Denni Meilizon dan Putri Ningsih, yang mengulas novel LEIDEN 2020–1920 dari berbagai perspektif, mulai dari kekuatan narasi, konteks sejarah, hingga relevansi pesan cerita dengan kondisi sosial dan kesadaran literasi generasi muda saat ini.
Dilansir dari berbagai media, novel LEIDEN 2020–1920 juga telah mendapat perhatian luas di ruang publik dan media daring. Sejumlah ulasan menilai karya Hasbunallah Haris ini sebagai novel fiksi sejarah yang ambisius, dengan kekuatan pada riset historis, detail naratif, serta alur petualangan yang mampu menggugah rasa ingin tahu pembaca terhadap sejarah kolonial dan jejak intelektual Nusantara. Di kalangan pembaca, novel ini diapresiasi karena menghadirkan sejarah tidak secara kaku, melainkan melalui kisah yang hidup dan penuh teka-teki. Namun demikian, beberapa kritik sastra juga mencatat kompleksitas alur dan banyaknya lapisan cerita sebagai tantangan tersendiri bagi pembaca, serta menyoroti perdebatan atas presisi historis tertentu. Meski begitu, novel ini tetap dipandang sebagai karya penting yang membuka ruang dialog antara sastra, sejarah, dan kesadaran kritis generasi muda.
Melalui kegiatan ini, diharapkan minat baca siswa semakin tumbuh, sekaligus memperkuat peran sekolah sebagai ruang subur bagi gerakan literasi dan dialog intelektual di Pasaman Barat.[]/rel
0 Komentar