Yang Pulang, Yang Runtuh, Yang Hilang; Melankolia sebagai Ruang Eksistensi dan Ekologi: Pembacaan Realis atas Trilogi Puisi Rungo Ashta

 Oleh: Denni Meilizon

Tulisan ini membahas tiga puisi karya Rungo Ashta, "Aku yang Menggendong Diriku Pulang", "Di Balik Dada Tanah yang Retak", dan "Nestapa Sebidang Sawah", yang dimuat media SYARIKATMU.COM edisi Senin, 1 Desember 2025, melalui pendekatan kerangka psikologis atau emosional melankolia dan filsafat realisme. Ketiga puisi tersebut dibaca sebagai satu kesatuan tematik yang merepresentasikan perjalanan emosional subjek puitik dari pergulatan personal menuju tragedi ekologis dan sosial. Analisis menunjukkan bahwa melankolia dalam karya ini tidak berfungsi sebagai bentuk keputusasaan, melainkan sebagai strategi kontemplatif dalam merespons luka, kehilangan, dan perubahan ekologis. Dengan memadukan lanskap batin dan lanskap geografis Pasaman (titi mangsa), penyair membangun relasi reflektif antara diri dan dunia, di mana luka personal dan kerusakan alam saling merefleksikan dan memperkuat makna.

Melankolia dalam tradisi sastra sering dipahami sebagai citra psikologis yang melekat pada pengalaman kehilangan, keterasingan, dan pencarian diri (Freud, 1917). Namun dalam perkembangan modern, melankolia tidak hanya berfungsi sebagai representasi duka, tetapi juga sebagai perangkat epistemologis untuk melihat dunia secara lebih tajam—sebuah cara memahami keberadaan dalam konteks waktu, luka, dan perubahan (Barthes, 1977).

Dalam konteks ini, trilogi puisi karya Rungo Ashta memperlihatkan transformasi makna melankolia dari dimensi personal menuju dimensi ekologis dan sosial. Ketiga teks tersebut bergerak dari ruang batin subjek (puisi pertama), ke ruang alam yang terluka (puisi kedua), hingga pada ekspresi duka sosial agraris (puisi ketiga). Keseluruhan puisi menjadi arsip emosi dan realitas yang saling berkelindan.

Puisi pertama, Aku yang Menggendong Diriku Pulang, memperlihatkan konflik subjek puitik dengan dirinya sendiri. Ada relasi antara luka dan pencerahan, antara keretakan dan upaya merawat diri. Metafora tubuh, cahaya, dan luka menciptakan gambaran perjalanan batin yang penuh pergolakan tetapi tetap diarahkan pada rekonsiliasi:

"aku pernah menjadi musuh bagi diriku
kini aku memeluknya seperti ibu"

Dalam konteks kerangka melankolia, ini merupakan fase self-recognition—kesadaran bahwa luka bukan musuh, tetapi bagian dari proses menjadi.

Puisi kedua, Di Balik Dada Tanah yang Retak, memperluas fokus dari tubuh diri menjadi tubuh alam. Sungai, hujan, dan tanah bukan sekadar elemen geografis, tetapi aktor yang memiliki emosi, sejarah, dan memori. Nada ekologisnya tidak bersifat romantik, tetapi realis:

"Sungai yang kemarin manja
tetiba mata merahnya nyalang"

Di sini, alam tampil sebagai entitas yang bereaksi terhadap eksploitasi manusia—sebuah narasi yang sejalan dengan kajian ekokritik modern.

Puisi ketiga, Nestapa Sebidang Sawah, menunjukkan puncak relasi antara luka diri, luka tanah, dan luka sosial. Gambarannya konkret dan realistis: sawah terendam, panen gagal, dan seorang ibu berdiri di pematang sebagai simbol penderitaan agraris.

"Ibu berdiri di pematang yang terbelah
menatap sawah bagai kitab yang luntur tulisannya"

Dalam perspektif realisme, ini merupakan representasi material dari ketidakstabilan ekonomi rural, sekaligus menjadi wajah humanistik dari bencana ekologis.

Trilogi puisi ini menyatukan tiga lapis realitas: psikologis, ekologis, dan sosial. Melankolia berfungsi sebagai jembatan epistemologis untuk memahami hubungan antara manusia, alam, dan sejarah. Realisme menjadi dasar untuk menegaskan bahwa kesedihan yang hadir bukan abstraksi, tetapi berkaitan dengan pengalaman hidup yang dialami masyarakat Pasaman (titi mangsa).

Puisi tidak hanya memotret duka, tetapi juga memproduksi makna baru: bahwa luka memiliki nilai kesadaran, dan kehilangan dapat menjadi ruang refleksi kolektif.

Melalui pembacaan menggunakan kacamata perpaduan melankolia dan realisme, puisi-puisi Rungo Ashta berhasil mengartikulasikan pengalaman personal dan sosial dalam konteks perubahan ekologis dan kegelisahan hidup kontemporer. Trilogi ini tidak hanya menjadi karya estetika, tetapi juga dokumen emosional dan historis. Dengan demikian, puisi ini dapat ditempatkan dalam wacana lebih luas mengenai sastra ekologis dan sastra kontemplatif Indonesia.

PEMBAHASAN

Ada masa ketika manusia berdiri di depan dirinya sendiri dan menyadari bahwa hidup bukan lagi sekadar perjalanan maju, tetapi juga perjalanan pulang. Pulang bukan ke rumah atau tanah kelahiran melainkan ke diri sendiri yang pernah tercecer sepanjang waktu. Dari titik itulah melankolia bukan lagi sekadar duka atau sentimen murung, tetapi menjadi bentuk paling jujur dari keberadaan: sebuah kesadaran bahwa manusia rapuh, tetapi tetap berjalan.

Dalam puisi "Aku yang Menggendong Diriku Pulang", suara batin itu terdengar jelas: perasaan retak, perang dengan bayangan di cermin, dan penolakan untuk menyerah. Melankolia di sini tidak hadir sebagai keputusasaan, tetapi sebagai tempat renung—ruang batin tempat luka tidak diusir, melainkan dipeluk.

Melankolia klasik—seperti yang dijelaskan oleh Robert Burton atau Freud—sering dipandang sebagai kesedihan yang menggumpal, ketidakmampuan melepaskan. Namun dalam puisi ini, melankolia mengalami evolusi: ia menjadi bentuk kebijaksanaan. Luka tidak lagi menelan subjek, tetapi justru menjadi guru yang mengajari arti bertahan.

Namun perjalanan batin ini tidak berdiri sendiri. Ia bertemu realitas yang lebih besar: tubuh bumi yang ikut terluka.

Puisi "Di Balik Dada Tanah yang Retak" memberi wajah pada tragedi ekologis. Hujan deras, sungai yang menggila, tanah yang runtuh—semuanya bukan fenomena alam semata. Ada ironi di sana: manusia yang serakah memaksa alam untuk menyerah, dan alam pun membalas dengan bahasa sunyi yang tidak dapat diterjemahkan selain melalui kehilangan.

Di sini, realisme tidak hanya hadir dalam deskripsi, tetapi dalam kesadaran moral: bencana bukan sekadar takdir, tetapi akibat. Tanah yang runtuh bukan hanya tanah, melainkan ingatan yang patah—tentang pohon yang ditebang, sungai yang dialihkan, hutan yang dilucuti sampai tinggal nama.

Jika pada puisi pertama subjek berjuang berdamai dengan dirinya, maka pada puisi kedua manusia harus berdamai dengan kenyataan bahwa ia bukan satu-satunya makhluk yang terluka.

Melankolia di sini menjadi kolektif. Ia tidak lagi berdiam di dada individu, tetapi bergaung dalam sejarah alam dan manusia.

Lalu datang puisi "Nestapa Sebidang Sawah"—yang mengembalikan tragedi itu ke rumah paling sederhana: kehidupan sehari-hari.

Di sini melankolia menemukan tubuhnya: seorang ibu berdiri di pematang yang terbelah, memandang sawah yang tenggelam. Sawah itu bukan sekadar lahan pertanian, ia adalah nyawa, ingatan keluarga, cita-cita ekonomi, doa yang disemai dalam sunyi.

Puisi ini mengembalikan realisme ke tempat paling konkret: ke butir nasi, ke lumpur yang menghapus harapan, ke tubuh petani yang lelah tetapi tetap berdiri.

Tidak ada metafora berlebihan di sini, justru karena tragedi sudah cukup telanjang. Kesedihan ibu petani tidak memerlukan kata-kata rumit; matanya yang memandang sawah yang hilang sudah merupakan kitab yang menangis.

"Setiap bekas luka adalah bintang kecil
yang menerangi perjalanan pulang."

Di baris ini, luka tidak hanya menjadi tanda masa lalu—melainkan cahaya. Ia bukan sekadar pengalaman buruk, tetapi sumber makna. Bagi jiwa yang melankolis, dunia tidak ditatap untuk dirayakan, tetapi untuk dipahami. Termasuk kerapuhannya.

Jika tiga puisi ini dibaca sebagai satu tubuh, maka kita melihat perjalanan melankolia dalam tiga tahap:

1. Melankolia Personal — pergulatan dengan diri, luka, ingatan, dan harapan.
2. Melankolia Eksistensial dan Ekologis — kesadaran bahwa luka diri mencerminkan luka bumi.
3. Melankolia Sosial — penderitaan yang menjadi nyata dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Melankolia dalam teks ini bukan kelemahan, tetapi cara menghadapi kenyataan yang pahit tanpa lari, tanpa menyangkal, dan tanpa membenci.

Realisme yang dihadirkan bukan realisme dingin, tetapi realisme yang diberi jiwa—bahwa kehidupan, sebagaimana tanah dan air, tidak pernah bebas dari retak, dan tetap harus dijalani.

Saya menarik kesimpulan bahwa puisi-puisi ini telah mengingatkan kepada kita bahwa manusia tidak selalu harus kuat. Tetapi manusia selalu bisa memilih:

Jika jatuh—bangkit.
Jika terluka—sembuh.
Jika kehilangan—tetap berjalan.

Sebab dalam segala yang remuk, selalu ada sesuatu yang masih bersinar—walaupun kecil, walaupun pelan—tetapi cukup untuk menerangi perjalanan pulang.

Tentang Penyair

Di balik trilogi puisi yang kita bahas di atas, ada sosok bernama Rungo Ashta, nama pena dari Gusmarita, SM., perempuan kelahiran Pasaman Barat yang kini memasuki usia kreatif 29 tahun. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai, dan karyanya telah hadir dalam buku tunggal, sejumlah antologi, serta berbagai media daring yang menjadi ruang bagi suara dan gagasannya.

Selain berkarya, ia menumbuhkan ekosistem literasi dengan merintis Akademi Menulis Metafora, sebuah ruang belajar menulis yang perlahan akan membentuk generasi baru penulis muda di daerahnya. Jejak literasinya telah bermula sejak masa kuliah melalui berbagai komunitas baca-tulis, dan kemudian mengakar lebih kuat ketika kembali ke tanah kelahirannya melalui Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat (FPL Pasbar). Ia juga terus menempuh jalur pembelajaran melalui Sekolah Menulis elipsis, WIN Indonesia, dan berbagai ruang belajar lainnya, sebuah penanda bahwa baginya menulis bukan tujuan akhir, melainkan proses yang senantiasa diperbaharui.

Kini, Rungo Ashta tinggal di Tapus, Kabupaten Pasaman—sebuah daerah yang barangkali menginspirasinya untuk menemukan ruang, ritme, dan kedalaman pada suara puisinya . Dari sana ia menuliskan dunia: pelan, tekun, dan penuh kesadaran bahwa setiap kata adalah upaya membangun jembatan antara diri, pengalaman, dan pembacanya.

Dengan demikian, karya-karya Rungo Ashta bukan hanya layak dibaca, tetapi juga layak terus ditunggu, sebab dari setiap baris puisinya selalu ada kemungkinan lahirnya kejernihan baru tentang manusia, hidup, dan rasa yang tak pernah selesai dicari.[]

Simpang Empat, Senin 1 Desember 2025 | Denni Meilizon, Redaktur Medkom SYARIKATMU.COM

Baca Puisi-Puisi terkait : https://www.syarikatmu.com/2025/11/puisi-puisi-rungo-ashta.html

________________________________________________________________

Referensi:

Ashta, Rungo. 2025. “Aku yang Menggendong Diriku Pulang.” SYARIKATMU.COM, 1 Desember.
———. 2025. “Di Balik Dada Tanah yang Retak.” SYARIKATMU.COM, 1 Desember.
———. 2025. “Nestapa Sebidang Sawah.” SYARIKATMU.COM, 1 Desember.
Ariel Heryanto. Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Jalasutra, 2015.
Barthes, Roland. A Lover’s Discourse: Fragments. New York: Hill and Wang, 1977.
Darmanto Jatman. Psikologi Sastra: Kajian Teori dan Praktik. Semarang: Dian Rakyat, 2000.
Freud, Sigmund. Mourning and Melancholia. 1917.
Goenawan Mohamad. Catatan Pinggir. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011.
Kutha Ratna, Nyoman. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.
Muhammad Al-Fayyadl. Melankolia: Sebuah Tafsir Filsafat atas Rasa Kehilangan. Yogyakarta: Basabasi, 2021.
Nurhidayat, Mohamad. Ekologi Sastra: Dari Kritik Ekologi ke Estetika Lingkungan. Bandung: Penerbit Humaniora, 2019.

Posting Komentar

0 Komentar