Laporan Investigasi
Ranah Batahan | SYARIKATMU — Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dan galian C di Kecamatan Ranah Batahan, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, disebut semakin marak dan dilakukan secara terbuka. Operasi tambang ilegal menggunakan alat berat jenis ekskavator berlangsung hampir setiap hari dan menimbulkan keresahan masyarakat akibat dampak lingkungan, sosial, hingga dugaan lemahnya pengawasan aparat terkait.
Berdasarkan penelusuran dan keterangan sejumlah warga, aktivitas tambang tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Beberapa titik bahkan berada di lokasi yang mudah terlihat publik, termasuk di dekat jalan lintas, kawasan permukiman, hingga fasilitas pelayanan masyarakat.
Seorang warga Ranah Batahan yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebutkan bahwa aktivitas galian C berlangsung sejak subuh hingga menjelang malam. Selain menimbulkan kerusakan bentang alam, aktivitas tersebut juga memunculkan polusi debu dan kebisingan yang mengganggu kehidupan masyarakat sekitar.
“Setiap hari alat berat bekerja. Debunya masuk ke rumah-rumah warga. Jalan juga mulai rusak. Tapi sampai sekarang aktivitas itu masih terus berjalan,” ujarnya.
Tidak hanya galian C, aktivitas PETI juga disebut semakin masif di sejumlah aliran sungai dan kawasan yang diduga masuk zona rawan kerusakan lingkungan. Antusiasme masyarakat untuk ikut menambang dinilai semakin tinggi karena faktor ekonomi dan tingginya harga emas.
Namun di balik itu, kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang terus meningkat. Aktivitas tambang ilegal berpotensi menyebabkan abrasi sungai, kerusakan hutan, pencemaran air, serta ancaman bencana ekologis di wilayah tersebut.
Yang menjadi sorotan masyarakat adalah keberanian sejumlah pelaku tambang ilegal beroperasi secara terbuka di area yang dianggap sensitif. Warga menyebut terdapat aktivitas alat berat yang berada tidak jauh dari fasilitas negara dan pelayanan publik.
Beberapa titik yang disebut masyarakat berada di sekitar kawasan dekat kantor kepolisian sektor serta area yang berdekatan dengan fasilitas kesehatan di Silaping. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas pengawasan dan penegakan hukum terhadap aktivitas pertambangan ilegal di daerah tersebut.
“Kalau aktivitasnya sudah terang-terangan seperti itu, tentu masyarakat bertanya-tanya. Kenapa bisa terus berjalan?” kata seorang tokoh masyarakat setempat.
Selain persoalan lingkungan, masyarakat juga mengaku khawatir terhadap munculnya intimidasi dan tekanan sosial terhadap warga yang mencoba menyuarakan penolakan terhadap aktivitas PETI. Sebagian warga memilih diam karena takut berhadapan langsung dengan pihak-pihak tertentu yang diduga memiliki kepentingan dalam aktivitas tambang ilegal tersebut.
Situasi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum. Terlebih, isu pertambangan ilegal di Sumatera Barat belakangan kembali mendapat perhatian setelah muncul berbagai laporan konflik dan kekerasan yang dikaitkan dengan aktivitas tambang tanpa izin di sejumlah daerah.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sebelumnya telah menyatakan komitmen untuk melakukan penertiban terhadap aktivitas pertambangan ilegal. Gubernur Sumatera Barat juga meminta adanya kolaborasi lintas sektor bersama Forkopimda dalam memberantas PETI dan aktivitas tambang ilegal lainnya.
Penegakan hukum yang konsisten dinilai menjadi langkah penting untuk menghentikan kerusakan lingkungan yang semakin meluas. Selain itu, pemerintah juga didorong menghadirkan solusi ekonomi alternatif bagi masyarakat agar ketergantungan terhadap aktivitas tambang ilegal dapat dikurangi.
Hingga laporan ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari pihak terkait mengenai langkah konkret penertiban aktivitas PETI dan galian C di Kecamatan Ranah Batahan.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan instansi lingkungan hidup segera turun langsung ke lapangan untuk melakukan investigasi menyeluruh, penertiban, serta memastikan perlindungan terhadap warga yang terdampak.
“Jangan sampai kerusakan alam inilah yang kelak diwariskan kepada generasi berikutnya hanya karena pembiaran yang berlangsung sekarang,” ujar seorang warga.[]
Redaksi
0 Komentar