Kunci Kemajuan Program Literasi di Daerah adalah Konsistensi, Keselarasan dan Ekosistem Terintegrasi

 

 Oleh: Denni Meilizon

KALAU kita membuka laporan nasional, cerita tentang literasi tampak cukup optimistis.
Negara mendorongnya melalui Gerakan Literasi Nasional. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat sudah berada di kisaran 73 poin. Tingkat kegemaran membaca juga melampaui 70 persen. Bahkan dalam konteks literasi keuangan, angka nasional sudah mencapai sekitar 65 persen.
 
Angka-angka itu memberi harapan: kita tidak berjalan di tempat. Tapi angka juga punya kelemahan—ia tidak pernah benar-benar bisa menjelaskan jarak.
 
Jarak antara pusat dan daerah.
Jarak antara kebijakan dan kenyataan.
Jarak antara program dan kebiasaan.
 
Di Pasaman Barat, jarak itu masih terasa. Di sini, literasi seringkali tidak dimulai dari kebijakan, melainkan dari kegelisahan.
 
Pemerintah daerah sebenarnya tidak tinggal diam. Melalui dinas terkait, perpustakaan sudah mulai diperkuat, layanan keliling dijalankan, dan sekolah didorong menghidupkan Gerakan Literasi Sekolah.
Namun, ada satu persoalan yang terasa: semua ini belum benar-benar menyatu menjadi ekosistem. Program masih berjalan sendiri-sendiri. Sekolah punya gerakan sendiri. Perpustakaan punya agenda sendiri. Komunitas bergerak dengan caranya sendiri. Padahal literasi tidak bisa tumbuh dalam ruang yang terpisah-pisah.
 
Penguatan kebijakan literasi di Pasaman Barat perlu didasarkan pada data empiris nasional. Secara makro, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Indonesia tahun 2024 mencapai sekitar 73,52 poin dengan tingkat kegemaran membaca sebesar 72,44%. Di sisi lain, indeks literasi keuangan nasional baru mencapai 65,43 persen, yang menunjukkan bahwa kapasitas literasi masyarakat masih berada pada level menengah dan belum merata.
 
Disparitas literasi antar daerah yang masih tinggi mengindikasikan bahwa kabupaten seperti Pasaman Barat menghadapi tantangan struktural, terutama dalam akses, infrastruktur, dan kapasitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, kebijakan literasi daerah tidak cukup bersifat programatik, tetapi harus berbasis indikator kinerja yang terukur dan terintegrasi dalam perencanaan pembangunan daerah.
Di Pasaman Barat, kita mungkin belum melihat ledakan besar gerakan literasi. Belum ada sistem yang benar-benar mapan. Belum ada kebijakan yang sepenuhnya terintegrasi.
 
Tapi ada sesuatu yang lebih penting:
benih-benih itu sudah ada.
 
Di tangan guru.
Di tangan relawan.
Di tangan anak-anak yang masih mau membaca, meski tanpa disuruh.
 
Dan selama itu masih ada, literasi tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk dirawat dengan lebih serius.
 
Sore hari di sebuah nagari, beberapa anak duduk melingkar di teras rumah. Buku-buku mereka tidak seragam. Ada yang lusuh, ada yang baru. Seorang pemuda berdiri di depan mereka, membacakan cerita dengan suara yang kadang naik, kadang turun.
 
Tidak ada struktur organisasi yang rapi.
Tidak ada anggaran tetap.
Tidak ada target kinerja.
 
Tapi kegiatan itu terus berlangsung.
 
Di beberapa tempat—Kinali, Lembah Melintang, hingga Sasak Ranah Pasisie—gerakan seperti ini hidup. Kadang muncul, kadang hilang, lalu muncul lagi dalam bentuk lain. Mereka adalah komunitas literasi yang bekerja tanpa banyak bicara. Mereka tidak sedang menjalankan program. Mereka sedang menjadikannya sebagai kebiasaan.
 
Ada satu ironi kecil yang jarang disadari.
 
Kita sering merasa kekurangan budaya literasi, padahal sebenarnya kita sudah lama hidup di dalamnya.
Di Pasaman Barat, orang-orang tumbuh dengan tradisi bertutur.
 
Di surau, cerita berpindah dari satu generasi ke generasi lain.
Dalam tradisi semua diwariskan perlahan. 
 
Semua itu adalah literasi. Hanya saja, ia tidak ditulis dalam buku.
Ia hidup dalam ingatan.
 
Masalahnya, kebijakan modern sering hanya mengakui literasi yang tertulis. Yang lain, perlahan dianggap tidak ada. Padahal jika dua dunia ini dipertemukan—tradisi dan bacaan—maka literasi tidak lagi terasa asing. Ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
 
Pasaman Barat sebenarnya tidak kekurangan potensi.
 
Ada komunitas.
Ada sekolah.
Ada pemerintah.
Ada tradisi yang kuat.
 
Yang belum ada adalah arah yang menyatukan semuanya.
 
Bayangkan jika setiap nagari punya ruang baca sederhana.
Jika komunitas didukung, bukan hanya diapresiasi.
Jika perpustakaan menjadi tempat orang datang, bukan hanya tempat buku disimpan.
 
Tidak perlu sesuatu yang besar.
Cukup sesuatu yang konsisten.
 
Mungkin ini yang paling penting.
 
Literasi tidak bisa dipaksakan. Ia tidak tumbuh dari kewajiban semata.
Ia tumbuh dari rasa ingin tahu.
 
Dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.
Dari ruang yang memberi kesempatan.
 
Dan di Pasaman Barat, ruang-ruang itu sebenarnya sudah ada.
Hanya perlu dijaga, diperkuat, dan dihubungkan.
 
Di Pasaman Barat, literasi belum menjadi cerita besar. Ia masih berupa potongan-potongan kecil yang tersebar. Tapi justru karena itu, ia masih punya ruang untuk tumbuh.
 
Tidak perlu dimulai dari nol.
Tidak perlu menunggu sempurna.
 
Karena di suatu sudut kelas, di teras rumah, di pondok kebun kelapa sawit, di pos ronda, kedai kopi, ruang keluarga atau di bawah cahaya lampu yang redup—seseorang atau sekumpulan orang sedang larut membaca.
 
Dan dari situlah, semua ini sebenarnya dimulai.[]

*Penulis adalah Pegiat literasi dan Wakil Ketua PD Muhammadiyah Pasaman Barat

Posting Komentar

0 Komentar