Di jorong Lubuk Puding, Nagari Kapa Kecamatan Luhak Nan Duo Pasaman Barat, kita mengenal sosok Devi Indra, S.Pd. Ia adalah sosok yang memiliki kepedulian besar terhadap pendidikan dan masa depan generasi muda di lingkungannya.
Dari kegelisahan melihat rendahnya minat baca masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, lahirlah sebuah gagasan sederhana namun penuh makna: mendirikan sebuah rumah baca.
Pada hari Minggu, 15 Februari 2026, Devi mulai merintis sebuah ruang literasi yang diberi nama Rumah Baca Carano Kato.
Nama itu bukan dipilih tanpa alasan. Ia terinspirasi dari filosofi budaya Minangkabau. “Carano” melambangkan tempat penghormatan dan kebersamaan, sementara “Kato” berarti kata-kata, nasihat, dan petuah yang baik. Melalui nama tersebut, ia berharap rumah baca itu menjadi tempat tumbuhnya ilmu pengetahuan, inspirasi, serta lahirnya generasi yang berakhlak dan bijaksana dalam bertutur.
Bagi Devi, rumah baca bukan sekadar tempat menyimpan buku. Ia ingin menjadikannya sebagai ruang hidup bagi anak-anak dan masyarakat untuk belajar, berdiskusi, berkarya, dan mengembangkan kreativitas. Di tengah derasnya arus digitalisasi, ia percaya bahwa budaya membaca tetap harus dirawat agar masyarakat tidak kehilangan kedekatan dengan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan.
Karena itu, berbagai kegiatan edukatif mulai dirancang untuk dilaksanakan secara rutin, seperti membaca bersama, mendongeng, pelatihan keterampilan, hingga pembinaan karakter bagi anak-anak dan remaja. Semua dilakukan dengan semangat kebersamaan dan pengabdian sederhana untuk lingkungan sekitar.
Kehadiran Rumah Baca Carano Kato menjadi harapan baru bagi masyarakat Lubuk Puding. Di tempat sederhana itu, Devi berusaha menyalakan pelita kecil pendidikan—pelita yang diharapkan mampu menerangi jalan generasi muda menuju masa depan yang lebih baik, berilmu, dan berbudaya./ist
0 Komentar