BAGI banyak nagari di Sumatera Barat, keberadaan sebuah ruangan kecil dengan rak-rak buku bacaan yang banyak merupakan simbol harapan. Ia kita sebut Pustaka Nagari—tempat yang seharusnya menjadi jantung literasi masyarakat. Dari sanalah, cita-cita besar tentang “mencerdaskan kehidupan bangsa” menemukan bentuk paling konkret: buku yang dibaca, pengetahuan yang dibagikan, dan kesadaran membangun peradaban yang ditumbuhkan.
Namun, di balik itu semua, ada satu pertanyaan yang menggelayuti pikiran saya, apakah pustaka nagari benar-benar sudah hidup menghidupi, atau hanya sekedar tampak hidup? Bagaimana di Kabupaten Pasaman Barat?
Lomba pustaka nagari sudah sering diadakan, termasuk di Pasaman Barat. Setiap tahun, ada yang dinilai terbaik. Ada yang mendapatkan penghargaan. Ada yang diangkat sebagai contoh. Secara administratif, semua berjalan baik. Bahkan, jika dilihat sepintas, kita bisa merasa optimis: gerakan literasi tampak bergerak. Optimis.
Tetapi persoalannya bukan pada “apa yang tampak” itu, melainkan “apa yang terjadi setelah itu”.
Oke, kita perlu jujur. Bahwa tidak semua pustaka nagari yang berprestasi tersebut, yang saban tahun menang lomba, kemudian benar-benar menjadi ruang hidup menghidupi bagi masyarakatnya.
Dalam banyak kasus, pustaka akan berubah menjadi ruang yang “cantik saat sesi penilaian, tetapi ruang sepi setelah proses lomba selesai”. Buku tersusun rapi, ruangan bersih, laporan lengkap—namun aktivitas yang terlihat ketika saat mengikuti proses penilaian lomba nyata nyaris tidak ada sesudahnya. Anak-anak tidak datang. Remaja tidak betah. Masyarakat tidak merasa butuh. Petugasnya kembali menjadi dirinya sebelum akting saat sesi shooting video syarat perlombaan.
Di titik ini, kita sedang berhadapan dengan persoalan yang lebih menakutkan dari sekadar penyimpangan daripada pengelolaan manajemen perpustakaan. tegasnya, kita sedang berhadapan dengan orientasi.
Lebih tepatnya, orientasi semu.
Orientasi semu adalah kondisi ketika arah sudah ditetapkan, tetapi maknanya perlahan bergeser. Pustaka nagari secara ideal diarahkan untuk mencerdaskan masyarakat dan membangun budaya baca. Namun dalam praktik, orientasi itu kerap berubah menjadi sekadar upaya memenuhi indikator penilaian. Aktivitas disusun mengikuti momentum lomba, bukan kebutuhan warga. Keberhasilan diukur dari piagam dan pengakuan, bukan dari seberapa jauh pustaka benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Di titik ini, pustaka tidak lagi bergerak sebagai ruang hidup, melainkan sebagai ruang tampil. Yang lebih mengkhawatirkan, orientasi semu ini sering tidak disadari, karena ia tampak rapi, terukur, dan “berjalan”. Padahal, di balik kerapian itu, ada kekosongan dampak yang perlahan dinormalisasi.
Selama penilaian lebih menitikberatkan pada aspek administratif—jumlah koleksi, kerapian tata ruang, kelengkapan dokumen—maka yang tumbuh adalah kecenderungan untuk “memenuhi standar”, bukan “memenuhi kebutuhan”. Pustaka menjadi objek yang dipersiapkan untuk dinilai, bukan ruang yang dihidupkan untuk dimanfaatkan.
Padahal, esensi pustaka bukan pada berapa banyak buku yang dimiliki, tetapi berapa banyak buku yang dibaca. Bukan pada seberapa rapi susunan buku di raknya, tetapi seberapa sering ia dikunjungi manusia. Bukan pada seberapa lengkap laporan kegiatannya, tetapi seberapa besar dampaknya terhadap masyarakat nagari.
Masalah lain yang jarang dibicarakan adalah soal distribusi buku dan bahan cetakan koleksi pustaka nagari. Buku-buku seringkali berhenti di dalam ruangan pustaka, menunggu pembaca datang.
Adalah tidak kurang juga rasanya bantuan hibah buku dikirim baik oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atau lembaga lain khusus ke Pasaman Barat. Sementara itu, realitas di nagari berkata lain: tidak semua orang punya kebiasaan atau kesempatan untuk datang ke pustaka. Dalam kondisi seperti ini, logika harus dibalik—bukan masyarakat yang datang ke pustaka, tetapi pustaka yang harus mendatangi masyarakat. Petugasnya harus giat mengantarkan buku bacaan kepada masyarakat.
Pustaka yang hidup adalah pustaka yang bergerak. Ia hadir di sekolah, di lapau, di rumah ibadah, di taman, bahkan di halaman rumah warga. Ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar fasilitas eksklusif yang berdiri terpisah. Merana mubazir menjerit menginginkan belaian pemustaka.
Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap persoalan sumber daya manusia. Banyak pustaka nagari dikelola oleh orang-orang yang menjadikan tugas tersebut sebagai pekerjaan tambahan, bukan profesi utama. Tanpa pembinaan yang serius, tanpa pelatihan yang berkelanjutan, sulit berharap pustaka bisa berkembang secara optimal.
Lalu, apakah semua ini berarti lomba pustaka nagari tidak berguna?
Tidak.
Lomba tetap memiliki peran penting sebagai pemicu semangat, sebagai alat ukur, dan sebagai sarana berbagi praktik baik. Namun, tanpa evaluasi yang jujur dan berkelanjutan, lomba berisiko menjadi sekadar panggung sesaat—ramai di depan panggung, kosong di belakang.
Yang kita butuhkan bukan sekadar lomba, tetapi kejujuran dalam menilai dampak.
Saya sering menyampaikan indikator tolok ukur keberhasilan sebuah perpustakaan dengan bertanya sederhana begini:
Berapa banyak anak yang benar-benar membaca setiap minggu?
Apakah pustaka menjadi solusi bagi kebutuhan belajar masyarakat?
Apakah buku-buku itu bergerak, atau hanya diam di rak?
Apakah pustaka menjadi ruang hidup, atau hanya inventaris nagari?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak membuat nyaman, terutama bagi pengelola atau petugas pustaka. Namun justru di situlah letak kejujuran yang kita butuhkan jika niat kita semua ingin masyarakat kita gemar membaca. Merasakan manfaat keberadaan pustaka nagari.
Karena jika pustaka nagari hanya “dihidupkan” saat lomba diadakan, maka yang kita bangun bukan budaya baca—melainkan budaya tampil. Budaya asesoris. Seremonial.
Jika buku hanya rapi di rak, tetapi tidak sampai ke tangan masyarakat, maka yang kita rawat bukan pengetahuan—melainkan simbol kemubaziran. Dan jika penghargaan dianggap lebih penting daripada kebermanfaatan, maka kita sedang mengkhianati tujuan negara ini didirikan sebagaimana termaktub dalam pembukan UUD 1945.
Ukuran keberhasilan pustaka nagari bukanlah trofi atau piagam penghargaan, uang bonus hadiah, pujian selamat dari pejabat atau kepala daerah, melainkan perubahan kecil yang terjadi dalam kehidupan masyarakatnya: anak-anak yang mulai gemar membaca, remaja yang menemukan tempat berdiskusi dan mengerjakan tugas sekolah, serta orang tua yang membuka tambahan wawasannya sehingga mendapat solusi kehidupannya.
Itulah prestasi yang sesungguhnya—prestasi yang mungkin tidak akan langsung selalu terlihat, tetapi yakinlah akan terasa mengharmoniskan kehidupan masyarakat kita yang kadang cemas, kadang gelisah kadang takut oleh kabar tersiar di gawai kita.
Dan mungkin, dari situlah kita bisa mulai membangun sesuatu yang lebih jujur, sesuatu yang lebih hidup, dan sesuatu yang lebih bermakna bagi cita-cita luhur membangun peradaban, meliteratkan Pasaman Barat.
Terakhir, pustaka yang baik itu yang menghidupkan pola pikir, kecerdasan, kebijakan dan pola hidup masyarakat sekitarnya. Bukan yang memenangkan perlombaan dengan berdusta dan mengadakan apa yang tidak pernah ada.
Demikian, Selamat Berlomba!

0 Komentar